Archive for December, 2010

December 21, 2010

Hot Chocolate

Gadis itu meletakkan kembali hot chocolatenya, di sebelah hot chocolate lain yang belum tersentuh. Dia beralih ke macbooknya. Cursor menjelajah untuk icon safari. Klik.

Sejenak mata indahnya memperhatikan lalu lalang kendaraan di seberang jalan. Seperti menunggu seseorang.

Lalu matanya kembali ke layar. Alisnya mengkerut. Mungkin melihat harga yang terlalu mahal di butik online langganannya. Namun senyumnya tak kalah oleh harga.

***

“Cling!” Blackberrynya berbunyi. Nampaknya ada pesan singkat.
Raut wajahnya berubah. Lekas-lekas dia melipat macbook. Dalam beberapa detik dia sudah membayar bill dikasir, lalu terengah-engah menuju mobil.

***

Di meja itu, aku terdiam. Pelayan pun membereskan hot chocolate yang dia pesankan untukku.

“Maaf sayang, seandainya aku bisa bicara denganmu sejak tadi.”

Advertisements
December 21, 2010

Cincin untuk Maya

Di depan cermin, kurapikan kemeja putih di badanku. Lalu kupandangi lagi cincin ini. Inilah harinya.

***

“May, ke belakang bentar yuk?”
“Yuk! Sekalian makan siang!”
Di ruang belakang, rencananya akan ku ungkap semua. Andai saja..

“Maya! Kucari kamu kemana mana..” Wawan tiba-tiba muncul.
“Oh iya Wan, kenapa?”
Lalu Wawan merogoh sesuatu dari kantongnya. Sebuah cincin berlian. Wawan melamarnya. Mereka tampak bahagia dan aku pun seharusnya.

***

“Dit? Dit! .. Mana cincinnya?”
Ah, melamun! Tersadar aku di katedral ini.
Segera kuserahkan cincin itu kepada Wawan. Lalu dia sematkan ke jari Maya.

Sementara riuh tepuk tangan membahana, cincinku untuk Maya terpuruk menyendiri; di kantong tuxedoku sebelah kiri.

***

You may kiss the bride, Wan.

December 17, 2010

Percakapan yang salah

PING!!!

Ah! Dia! Astaga aku kangen sekali!
Aku pun autis melayani chatnya.

Astra: Hai sayang, kangen. Kamu ke mana aja dari tadi?
Dinda: Sori sayang, pacarku nelpon. Ada masalah gitu sama keluarganya. Jadi dia curhat lama.
Dinda: Nyesel deh ga punya hape satu lagi
Dinda: Jadi blackberry ga keganggu telepon lain.
Astra: Besok aku beliin kamu CDMA deh. Biar ga keganggu.
Dinda: Makasi sayang, kamu baik banget.
Dinda: Muach
Astra: Apa aja buat kamu pelangiku.
Dinda: Muach

Lalu klakson mobil terdengar dari gerbang depan.

Astra: Sebentar ya sayang, suamiku datang. Nanti malam aku ping kamu deh.
Dinda: Yah :(
Astra: Ga apa kan sayang? Bye muach
Dinda: Iya… bye sayang.

End chat.

December 17, 2010

Gincu Istri Kurang Ajar

“Aku mau tidur!” Istriku lalu menghapus gincunya.

“Jangan, temani aku dulu!” Kutarik badan istriku.

“Tidak! Aku capek! Seharian aku bekerja, meeting hingga sore! Sampai rumah anak-anakku rewel, belum makan, belum mandi, ayahnya tidak mengurus becus mereka!” meronta.

Aku diam. Bisu. Kalimat istriku barusan seperti hook Holyfield, telak menghantam harga diriku sebagai suami. Segala pembelaan yang bisa aku pikirkan, terbungkam

“Tapi sayang, aku…”
Lirih, tanpa tenaga, tanpa lanjutan.
Aku melangkah gontai menuju kasur. Istriku kembali ke meja rias, membersihkan wajahnya dari sisa kosmetik, lalu menuju kamar anak-anak.

Sang suami

Aku terbangun dari lelap sejenak. Lalu berjalan menuju meja rias, mengambil gincu istriku.

“Kau..kau yang memberinya kekuasaan! Sekarang giliranku!”

Bibirku kini merah, menyala.