Rehat

Masih, senja itu kau dan aku berpelukan.
Tersenyum saling memandang.
Wajah kita yang bahagia.

Kau rekatkan pelukanmu.
Kau tenggelamkan wajahmu di dadaku.

Sayang, kau panggil aku sayang.
Kau sengaja menaruh dahimu di leherku.
Tentu saja, agar aku mencium ubun ubunmu.

Cerdik, kau kekasih yang nakal.
Kubur cemburumu,
Kau kekasihku yang pintar.

Puaskah kau?
Kau dapat keinginanmu, menciumku tanpa henti.
Bukan hanya bibirku, pun sekujur tubuhku.
Kau serang hatiku, menandainya dengan kecupan.

Dan saat kau menengadah kembali.
Memandangku manja.

Ku gengam dagumu,

Kau melanggar janjimu sayang.
Kita harusnya bercumbu tanpa henti.

Sepersekian detik, kudapati.
Bibirmu dan bibirku berpagut.
Bercium, mengulum.

Sayang, jangan berhenti lagi.
Bukankah ini yang kau nanti?

Advertisements

One Comment to “Rehat”

  1. Tepuk tangan – puisi yg menggebu. Bagus. Caiyo 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: