City of Angels (1998)

Poster film City of Angels dengan pose Nicholas Cage dan Meg Ryan yang terkenal itu 😀

“Bagaimana bila seorang malaikat jatuh cinta?”

Aku menyaksikan film ini kelas 2 Smp dan sampai sekarang masih menempel di sudut ingatan. Entah kenapa, romantisme di film ini sangat sejuk, satir dan miris pada saat bersamaan.

Film ini menceritakan tentang, Seth (Nicholas Cage), salah seorang malaikat yang tugasnya menjemput manusia yang menjelang mati kemudian membimbingnya menuju proses reinkarnasi ke hidup berikutnya. Suatu hari dia bertugas menjemput seorang manusia yang menjelang ajal di sebuah rumah sakit (gokiiil…). Namun dia terkesima dengan perjuangan Maggie Rice (Meg Ryan), dokter yang berusaha menyelamatkan pasien gagal jantung; dan penyesalan Maggie atas kegagalannya.

Seth mulai jatuh cinta, lalu beberapa kali menampakkan diri kepada Maggie, bercakap-cakap tanpa mau memberitahu Maggie tentang dirinya. Maggie pun merasakan hal yang sama, meski sudah memiliki hubungan dengan rekannya yang juga seorang dokter di rumah sakit tempat mereka bekerja. Singkat cerita, Seth bertemu Nathaniel Messinger, salah seorang pasien Maggie yang ternyata merasakan kehadiran Seth. Usut punya usut, ternyata Pak Nathan ini dulunya juga malaikat seperti Seth, dan Seth menyadari waktu Pak Nathan ini tahu Seth membaca pikirannya. Jadi Seth dikerjain sama Pak Nathan ini waktu Pak Nathan makan pancake.

Nathan: “..and you reading my mind right now”
Seth: “Stop that!”

Lalu mereka bercakap-cakap, tentang bagaimana seorang malaikat bisa menjadi (seperti) manusia. Ternyata, Pak Nathan ini menjalani ritual “Jatuh”, yaitu jatuh dari ketinggian yang membuatnya merasakan ‘kemanusiaan’ seperti sakit, berdarah, sentuhan dan sebagainya. Logically, masuk akal ya? Jadi kalau manusia jatuh dari ketinggian tertentu pasti bakal mati/pindah ke dunia malaikat. Mungkin berlaku juga buat malaikat kalau jatuh, bakal pindah jadi manusia. #apadeh #abaikan

Nah, Seth mulai bimbang untuk melanjutkan tugasnya sebagai malaikat karena cintanya kepada Maggie yang menggebu. Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil jalan yang sama dengan Nathan, yaitu “Jatuh” menjadi manusia. Di saat yang bersamaan, Maggie pun bimbang karena dihadapkan pada sebuah lamaran dari rekan dokternya, sementara dia makin jatuh cinta kepada Seth. Tapi Maggie pun sadar bahwa Seth tidak pernah mengalami yang namanya cedera, maupun luka-luka fisik apapun. Ada satu scene saat mereka memasak di dapur Maggie, dimana Maggie melihat dengan jelas jempol Seth terpotong (bukan teriris lagi) oleh pisau dapur saat memotong sayuran. Tapi Seth, pura-pura bodoh dan memperlihatkan bahwa jempolnya tidak apa-apa.

Momenth of truth yang luar biasa aku rasakan ketika Seth memutuskan untuk menjatuhkan diri dan mengorbankan keabadiannya demi cintanya kepada Maggie. Sampai akhirnya mereka bisa saling merasakan dan (ehem) bercinta (hahahaha..). Tapi sungguh, momen itu menyuntikkan keyakinan kepada aku, bahwa cinta memang perlu pengorbanan yang besar. Seperti kita temukan pada Seth yang menanggalkan kemalaikatannya, demi cintanya kepada Maggie.

Ending yang menyesakkan muncul pada saat mereka bersatu, namun Maggie mengalami kecelakaan yang tidak bisa diselamatkan Seth di akhir film drama romansa fantasi ini.

“Seth, i can see them. They came to escort me away. Im not afraid anymore.”

Film ini diakhiri dengan adegan di pantai, dimana para malaikat berkumpul untuk mendengarkan ‘nyanyian surga’. Di pantai ini Seth dan Nathan bertemu dengan sahabat malaikat Seth, yaitu Cassiel yang bertanya tentang keputusan Seth menjadi manusia. Seth menjawab, tidak.

“I would rather have had one breath of her hair, one kiss of her mouth, one touch of her hand, than eternity without it. One.”

Kemudian kita akan menyaksikan Seth menikmati ‘kemanusiaan’nya, bermain air di pantai. Meski sendiri, dia mendapat hadiah terindah dari cinta; sebuah kehidupan.

Judul: City of Angels
Pemeran: Nicholas Cage, Meg Ryan
Rilis: April, 1998
Produser: Charles Roven, Dawn Steel.

Advertisements

3 Comments to “City of Angels (1998)”

  1. I loooooove it, dit. Ini salah satu film favoritku nih.
    Super duper keren dan tragis!
    Endingnya itu lhoo, ketabrak pas lagi naik sepeda

  2. Uni nonton ini di kampus deh kalo ngga salah. Not that I’m THAT old *lho kok sewot*. Tapi senior-senior berbaik hati memutarkannya untuk para junior di loker belakang.. (don’t get any ideas now). Agak kurang konsen sih nontonnya waktu itu (konsen nontonin senior sih). Tapi baca resensimu cukup bikin uni merinding hore. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: