Senja itu, kau dan aku

Sayang,
Kekasihku yang agung
Kekasihku yang tak terlihat
Kekasihku yang pilu

Tahukah kau,
Letup cemburumu terasa di ujung jariku?
Tangisan rindumu menggema di rongga otakku?

Tahukah kau,
Perih gigitmu tertinggal di telingaku?
Manis lipstikmu masih mengecap di pori bibirku?

Sayang,
Lihatlah jejak-jejak di dadamu
Ingatkah kau, bibirku yang musafir
Tlah mengembara di sana?

Sayang,
Adakah kau ingat sentuhanku?
Apakah kau ingat rayuanku?
Ataukah geliat manjamu?

Kau,
Yang dalam bermimpi
Mari berbagi,
Keinginan hati yang paling suci

Kau,
pecinta terikhlas
Di hatiku, kau terukir tanpa nama.

Kekasihku,
Di senja itu, kau dan aku tak pernah bercinta.

Advertisements
Tags:

2 Comments to “Senja itu, kau dan aku”

  1. “Di senja itu, kau dan aku tak pernah bercinta.”
    Mantaaap, Dit!!

  2. “Kau pecinta terikhlas”
    du, jaman sekarang jarang pecinta yang ikhlas ya dit :’)
    nice poet..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: