Klenting

Di depan perapian aku duduk,
Mengaduk kopi yang biasa kau seduh untukku.
Sendok dan gelas, bercumbu di bawah tangan Tuhan.
Ting..ting..ting..

Di dalam perapian api menari,
Lalu pindah ke mataku menjadi kenangan.
Pedang-pedang beradu, emosiku-emosimu.
Ting..ting..ting..

Seandainya kau tahu sayang,
Aku ingin kita seperti mereka.
Gula dan kopi yang disatukan gelas.
Kayu dan api yang bercinta panas.
Sulut-sulut senja yang diwarnai tawa runyam dua pecinta,
yang berpura dimabuk kopi buatan mereka sendiri.

Di antara derak suara perapian, sayang.
Sandal hitammu menghujam lantai.
Senyumku saat kau tarik lonceng di depan pintu hatiku.
Ting..ting..ting..

Advertisements
Tags:

2 Comments to “Klenting”

  1. “Di antara derak suara perapian, sayang.” saya suka dan senang menulis bagian seperti ini. walau sekarang lebih sering pake titik daripada koma 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: