Archive for August, 2011

August 19, 2011

Kata; Perang

Ada perang di dadaku
Yang satu meneriakkan cinta

Satu lagi; benci

Jangan bertanya apa
Bahkan aku sang empunya
tidak tahu
harus menuruti yang mana

Kamu tahu sayang
Dadaku biru karenanya

Perang abadi
cinta dan benci

kau tak melihatnya

karna
yang tersisa nanti hanya
runtuhan sepi

dan bisik sunyi

Advertisements
Tags:
August 12, 2011

Kata; Api.

Aku suntuk mencari-cari kata yang tepat untuk mencium matamu.
Entah berapa kali harus kuputari pikiran ini,
demi menemukan kalimat yang lebih indah daripada pelangi
untuk membuat kamu tersenyum.

Karena sungguh, senyummu adalah candu sejak pertama kali menyalakan kembang api di dadaku.

Hari ini duniaku sedang riuh oleh protes neuron-neuron alpha tubuhku,
yang merindukan bulu-bulu halus di tubuhmu.

Cepat pulang sayang, cium aku.
Nyalakan api di dadaku.

 

130811-3.28 am

August 12, 2011

USAHA

masih kuingat satu temu
sebuah pembicaraan
pertukaran pikiran
antara kita

dimana debu-debu kekaguman
menjadi kerikil-kerikil sayang
dan kuatkan cadas cinta

walau tertutup karang

ombakku ‘kan mengikisnya
sampai habis…
hingga kau mau…

(DPS ’02)

 

Puisi yang kutulis tahun 2002, seorang teman menemukannya terselip di bukunya.
Terima kasih mbak Olin, ini prasti kepujanggaanku. #halah

August 12, 2011

Notes; Facebook.

Dear notes facebook,
sudah lama tak memahat ketik disini, apa kabarmu? masihkah dipenuhi dengan copy paste beberapa akun ababil yang ingin mengimpress teman-temannya? jika masih, poor you, dizolimi sedemikian rupa. Kusarankan kau segera melapor kepada Fpi atas dasar penistaan fungsi, dijamin segera ditindak lanjuti. Banding-banding kau lapor komnasham, geez; mereka bahkan lebih lelet daripada pesawat-pesawat singa air. Jika kau bersikeras ke komnasham sih, kusarankan membeli BB atau iPhone, buka akun twitter, tumblr atau semacamnya, langganan paket unlimited; karena mungkin menunggunya akan amat lama sekali. Eh, sudah pernah menunggu renderan video? well, sebelas dua belas lah sama menunggu jawaban cewe sma yang kemarin kau tembak. Banter paling lama sekitar semingguanlah, -ditolaknya-
ha ha
funny isnt it?
blah, i just throwing my trash dude. get a life.

sincerelu,
yer account administrator

August 12, 2011

Siapa bilang aku tidak (pernah) tolol?

Sebodoh laku jam 5 pagi
4.44 am.

Rindu mengetuk pintu mataku, memaksanya terbuka di pagi buta. Yang menyebut cinta itu buta, mungkin belum pernah merasakan rindu yang tidak tahu waktu seperti ini.

“bangun tolol, katanya rindu.”

Setengah terbuka, mataku bekerja sama dengan tangan; menjelajah ranjang demi sebuah blackberry. Apalah, demi menemukannya aku gengsi menghidupkan lampu. Toh, aku menemukannya pula.

aku: “aku rindu.”

kamu: “iya.”

Jariku begitu saja bergerak menuju percakapan terakhir kita, yang baru kau balas beberapa menit yang lalu. Aku langsung ragu, siapakah yang mengetuk mataku tadi? Rindu? atau suara notifikasi bbm? Ah, kita namakan saja dia rindu, bagaimana? Sepakatlah.

Pun aku segera menelponmu, memenuhi permintaan telinga yang mengaku nabi utusan hati. Mungkin dia satusatunya nabi yang sakau; suka sama kau. Beberapa cakap yang tidak nyambung pun segera berlalu. Aku mengerti kau lelah, nanti pagi i ring you again ya.

Lalu kugerakkan tubuhku, masih sombong; berjalan di kegelapan rumah menuju dapur. Kulkasku penuh buah, telur dan berkotak-kotak teh botol. Okelah, kuambil sebuah kotak teh botol alih-alih segelas air. Masih pun aku sombong, berjalan ke toilet tanpa menghidupkan lampu. Toilet? Ya, aku ingin buang air kecil, dengan mulut yang terhubung pipet kepada sekotak teh botol.

Entah makin pintar atau terpengaruh illuminati, kuhidupkan lampu toilet agar dianggap pintar; buang air kecil pada tempatnya. Got it right?

Akhirnya, aku pun keluar dari toilet dengan perasaan pintar. Aku yakin, inilah konspirasi! Doktrin para petinggi freemason berhasil! Aku tidak mengotori lantaiku dengan pipisku! Aku pintar! dan harus tetap pintar untuk segera mempostingnya di sini tanpa terbaca oleh Fpi agar tidak dianggap antek zionis dan diarak keliling kampung mereka.

ah, aku lupa ini Bali, Fpi who?

Sayang, jika kau masih belum menemukan hubungannya dengan rindu, sadarlah. Rindu ini membuatku jadi bodoh.

6.12 am. Commaditya.

August 5, 2011

Fajar di sebuah Katedral

Di saat seperti inilah yang membuatku ingin berlutut di kaki Yesus. Kemudian membebaskan air mataku membasuh pipi disambut suara-suara lonceng. Bersahutan dengan latihan paduan suara anak-anak Tuhan dan malaikat-malaikat kecil yang dipantulkan sebagai gema di sepanjang katedral. Kedamaian.

Seorang pastor datang menghampiriku, kemudian bertanya. “Nak, kau tidak seperti jemaat kebanyakan, mengapa kau kemari?”

Dan aku menjawab, “Saya tidak tersesat Bapa, tapi saya sedang ingin bicara padaNya. Pura masih jauh, maka saya memutuskan kemari. Bolehkah? Bukankah ini juga rumahNya?”

Dia tersenyum padaku, matanya memancarkan kasih Tuhan. “Berdoalah dengan caramu, nak. Dia akan mendengarkanmu, dimana pun kau ingin bicara.”

Kemudian dia berlalu, menyalakan lilin-lilin kecil seterang kasih. Cahaya fajar mulai menerobos masuk kaca-kaca raksasa, menghangatkan rusuk-rusukku, menerangi sudut-sudut gelap hatiku, mengiringi air mata yang mengalir ke sudut-sudut lukaku.

Sejenak, kurasakan Tuhan hadir. Entah Yesus, entah Ida Sang Hyang Widhi Wasa; kasihNya satu.
~Tuhan, Aku mencintaiMu sejak aku masih debu. Aku tidak pernah berkhianat dari kasihMu.

Juli, 31 2011 ~ di suatu pagi yang buta
Putu Aditya Nugraha. Seorang Hindu yang Taat.