Siapa bilang aku tidak (pernah) tolol?

Sebodoh laku jam 5 pagi
4.44 am.

Rindu mengetuk pintu mataku, memaksanya terbuka di pagi buta. Yang menyebut cinta itu buta, mungkin belum pernah merasakan rindu yang tidak tahu waktu seperti ini.

“bangun tolol, katanya rindu.”

Setengah terbuka, mataku bekerja sama dengan tangan; menjelajah ranjang demi sebuah blackberry. Apalah, demi menemukannya aku gengsi menghidupkan lampu. Toh, aku menemukannya pula.

aku: “aku rindu.”

kamu: “iya.”

Jariku begitu saja bergerak menuju percakapan terakhir kita, yang baru kau balas beberapa menit yang lalu. Aku langsung ragu, siapakah yang mengetuk mataku tadi? Rindu? atau suara notifikasi bbm? Ah, kita namakan saja dia rindu, bagaimana? Sepakatlah.

Pun aku segera menelponmu, memenuhi permintaan telinga yang mengaku nabi utusan hati. Mungkin dia satusatunya nabi yang sakau; suka sama kau. Beberapa cakap yang tidak nyambung pun segera berlalu. Aku mengerti kau lelah, nanti pagi i ring you again ya.

Lalu kugerakkan tubuhku, masih sombong; berjalan di kegelapan rumah menuju dapur. Kulkasku penuh buah, telur dan berkotak-kotak teh botol. Okelah, kuambil sebuah kotak teh botol alih-alih segelas air. Masih pun aku sombong, berjalan ke toilet tanpa menghidupkan lampu. Toilet? Ya, aku ingin buang air kecil, dengan mulut yang terhubung pipet kepada sekotak teh botol.

Entah makin pintar atau terpengaruh illuminati, kuhidupkan lampu toilet agar dianggap pintar; buang air kecil pada tempatnya. Got it right?

Akhirnya, aku pun keluar dari toilet dengan perasaan pintar. Aku yakin, inilah konspirasi! Doktrin para petinggi freemason berhasil! Aku tidak mengotori lantaiku dengan pipisku! Aku pintar! dan harus tetap pintar untuk segera mempostingnya di sini tanpa terbaca oleh Fpi agar tidak dianggap antek zionis dan diarak keliling kampung mereka.

ah, aku lupa ini Bali, Fpi who?

Sayang, jika kau masih belum menemukan hubungannya dengan rindu, sadarlah. Rindu ini membuatku jadi bodoh.

6.12 am. Commaditya.

Advertisements

One Comment to “Siapa bilang aku tidak (pernah) tolol?”

  1. Satir.. Tajam yang menghujam dalam.
    Bagus dit.. Bikin aku tersenyum miris.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: