Archive for October, 2011

October 27, 2011

Ada siapa di sana?

Tok..tok..tok..
“Siapa di sana?” Tanyaku tanpa jawaban.
Aku bergegas meraih gagang pintu, lalu membukanya.

Terlihat seorang gadis tesenyum padaku di keramaian yang bergerak lambat.
Dan aku seorang lelaki, yang hanya diam di dalam kerumunan abu-abu.

Cinta, jatuh tanpa sia-sia.
Meski kau pikir kau manusia biasa.

Advertisements
Tags:
October 27, 2011

BATU

Messages-
To: Mama

“Mama, Angga sudah sampai di apartemen temen.”

Backspace~hold

“Mama, Angga udah sampe di apartemen temen.
Malem ini tidur di sini, besok pagi rencananya ke bintaro.”

Backspace~hold

“Mama, Angga uda di apartemen temen, mama uda tidur?
Udah malem ini, Angga kan ‘gak pulang, mama tidur aja.”

Cancel – discard.

Phonebook – Mama – Call

Calling..

Cancel

Messages
To: Mama

“Mama, Angga kangen.
Angga sayang mama.”

BLAH!

CancelDiscardLock phone

Entah berapa kubik hujan dari pelupuk mataku,
batu di dadaku tak pula melunak.

 

Apartemen Tebet, 21 Okt 2011 01.31 Wib.
Jakarta pagi hari, sekian ribu kilometer dari ibu .

Tags:
October 4, 2011

Kehilangan

Lelaki itu menunduk memegangi kepalanya. Lorong IRD yang riuh, masih kalah dengan debur kesedihan di kepalanya.

3 jam yang lalu.

Brak!
Pintu IRD terbuka dengan seorang wanita diatas ranjang darurat.
“Korban kecelakaan, dok. Benturan hebat di kepala.”

1 jam yang lalu

“Bapak Rudy?”
Lelaki itu spontan bangun dari kursi ruang tunggu.
“Bagaimana istri saya, dok?”
“Sudah stabil, tapi belum sepenuhnya sadar. Begini, ada yang harus kami sampaikan segera.”

Kugigit bibirku, sepanjang karir kedokteranku, aku tak pernah suka bagian ini.
“Istri bapak mendapat benturan hebat di kepalanya. Beliau mengalami amnesia.”

Kusaksikan langit runtuh di matanya, Aku yakin sebentar lagi hujan di pipinya.

“Ada lagi.”

Dia mendongak, terkejut.

“istri anda juga kehilangan janinnya.”

October 3, 2011

Awal

2009

“Sayang, ayo!” istriku setengah berteriak.

@RudyAlams
Bye Tweeps, nganter bini shopping dulu.
Send tweet.

“Yuk, sayang.”
Ujarku setengah bercanda. Wajah istriku masam, aku tahu dia tidak suka aku terlalu larut di timeline. Sejak mengenal twitter, aku jadi lupa waktu.

“Sayang, maaf ya..” ujarnya. “Aku bukan mau terlalu ngatur. Tapi kamu terlalu serius sama timeline.”
“Iya, maafkan aku sayang..”
“Aku ada kabar..”

Cling!

Spontan, tanganku bergerak cepat meraih blackberry di kantongku. Twitter, open, mention.

RT @yougoklik: Selamat anda terpilih sebagai…

“SAYANG, AWAS !!”

Gelap

Kukeluarkan tubuhnya yang penuh darah dari mobil kami. “Sayang?! Sayang?!” kutepuk-tepuk pipinya, mengguncang badannya.

“Si..siapa..kamu?” bisiknya lirih.

Kupeluk tubuhnya erat-erat, tangisku bersembunyi dibalik raungan sirene di kejauhan.

October 2, 2011

Perkenalan Kesekian

“Ah, sudah bangun. Selamat pagi”
Seorang Pria menyapaku sambil mengganti lampu di ruangan penuh kursi.
“Siapa kamu?” Lalu pandanganku kabur; menghitam.

Brak.

Saat aku terbangun, kutemukan sebuah surat terbuka di tepi ranjang.

Selamat Pagi Cantik.
Maaf, Untuk pagi ini aku harus menulis surat ini untukmu karena pagi ini ada meeting penting.
Kamu adalah Dewi Astuty. Menderita Amnesia Anterograde sejak 3 bulan yang lalu. Sebuah penyakit amnesia jangka pendek, karena kecelakaan mobil yang kita alami saat itu.
Bila (bisa) kamu ingat koki, tukang ledeng, tukang kebun dan tukang listrik yang menyapamu tiap pagi-pagi lalu itu, adalah Rudy Alamsyah, suamimu.

PS:  Teh tawar dan roti mentega kesukaanmu ada di meja makan, aku mencintaimu.

Rudy

October 1, 2011

Malam Minggu Ini Kita (Tidak) Bertemu

Kemeja putih, dasi kupu-kupu. Kurampas seikat bunga dari meja lalu berhenti di depan cermin. “Cukup..” batinku, setelah melihat lelaki-tumben-rapi disana. Setelan cupu, dagu minim bulu, matanya anti ragu; siap menghadapi malam minggu.

Malam ini, aku akan bertemu orang tuamu. Kubayangkan hal-hal yang mereka tanyakan. Kusimulasikan salam terbaik yang terlintas dan melatih beberapa cerita lucu, seiring mendekatnya rumahmu.

“Selamat datang, nak.” Ibumu menyambutku di pintu, kemudian mempersilahkanku masuk. “Aah, kamu sudah datang, Mari kemarilah, nak.” Ayahmu memelukku. “Ayo, dia menunggumu.” Beliau lalu mengantarku ke ruang keluarga, disambut senyum manismu.

Kuletakkan seikat bunga di depan fotomu, kunyalakan beberapa dupa lalu berlutut dalam doa. Kurasakan tangan ayahmu mengusap punggungku dan isak ibumu mengiringi tangisanku.