Archive for November, 2011

November 13, 2011

belum selesai

Pelan-pelan aku merintih, dalam kesepian-saat terlalu jauh darimu
Karena, bila kita tidak lagi dekat, dadaku tak pernah berdebar sama

Ibu,

Di pahamu, air mataku menemukan muara
Di pelukmu, umurku hanya angka
Untukku, kau, adalah cinta tak terganti oleh ribuan kekasih
yang datang berkunjung, lalu pergi

Saat jarak merentang sedemikian, aku koma
kemudian air mata, jatuh merindukanmu

Ibu,

Tulisan ini, belum (atau mungkin tak akan) selesai memujamu

 

–Untuk Putu Purwani Laksmi
27 tahun menjaga penjahat bengal
yang tak pernah dewasa di pelukannya

Advertisements
Tags:
November 8, 2011

Secangkir (Keinginan Untuk) Bahagia

“Selamat malam, kamu.”
Kemudian aku, memikirkanmu dalam-dalam, seperti hatiku yang tenggelam di lautan katamu. Rayuan yang tak pernah ingkar untuk selalu hadir dalam cakap kita. Entah kopi itu, atau badai ciuman yang barusan; hati ini selalu berdesir dengan ikhlas saat kau menyapanya lewat telinga.

Terkadang aku percaya bahwa Tuhan membubuhkan beberapa bubuk tawa di setiap kopi yang kita cangkirkan. Kita bahagia bagai burung-burung menyambut pagi yang sebenarnya, akan selalu datang menjawab kekhawatiran kita setiap malam. Iya sayang, entah mengapa kita selalu cemas setiap dikunjungi malam. Padahal fajar selalu datang setiap hari tanpa berjanji. Dia selalu datang setiap pagi untuk menghapus gelap.

Terkadang aku merasa riang saat malam datang. Karena hari-hari pertemuan kita pun perlahan mendekat. Kamu tahu? Semesta ini seperti hidup. Mereka memakan rindu dan cinta sebagai energinya, tentu saja; untuk mendekatkan kita. Tak pernahkah kamu sadari bahwa setiap hari kita makin dekat? Jangan jadikan jarak sebagai acuan, cobalah sesekali menghitung waktu lalu tersenyumlah.

Sayang, umur kita adalah hitungan mundur. Hari yang kita nantikan akan segera tiba. Biarkan jarak memakan dirinya sendiri, dan waktu mengendalikan debar-debar di dada. Ah, aku suka sekali istilah ini–debardebardidada–sangat ritmik seperti musik. Kamu tahu bagaimana aku memainkan musik? Aku mengendalikan diriku dulu, agar ritme musik bisa kujaga. Seperti aku ingin mencintaimu, aku pun harus mencintai diriku dulu, agar mencintaimu bisa menghadirkan kita bahagia.

Nona manis,

Entah mengapa aku menulis ini, seperti mengabaikan rindu yang menghasut dadaku untuk berdebar cacat. Namun begitulah cinta. Mereka menghukum kita dengan cemas yang berlebihan, memakan kita dari dalam lalu membunuh kita dengan emosi dan ketidakpercayaan. Kita tak akan benar-benar mati, namun kembali ke asal–menjadi aku dan kamu, bukan lagi kita.

 Sesore ini aku terbangun dari kenyataan, kemudian menemukan kamu duduk manis di ruang rindu.

Tunggu aku sayang, aku akan kembali. Meski Tuhan tak pernah kehabisan alasan untuk menundanya dengan waktu, kita akan kembali menjadi kita. Mungkin abadi, mungkin juga hanya semalam yang api, menghabiskan kita dengan cepat bersama riuh cinta kita yang bersahutan lalu kembali lagi menjadi sepi. Ah..

Esok, aku akan tersenyum padamu, lalu matahari akan tenggelam di wajahmu, meronakan senja di pipimu. Atau, aku akan menjelma hujan selamanya, yang tak pernah bisa kamu gapai dari dalam jendela.

Apapun itu, kamu akan selalu seindah pagi, kutunggu bersama secangkir kopi yang dibubuhi Tuhan bubuk tawa.

Tags: