Archive for December, 2011

December 23, 2011

Dalam Kerapuhanku, Aku Menunggu Kauhancurkan~

I. RINDU

Selalu kamu adalah utaraku,
dan rindu ialah jarum kompas yang senantiasa mengarah kesana
Karena tiada yang sehangat hatimu, dimana ingin kurumahkan segala rindu

Dan akan selalu ada namamu, disetiap doa-doa yang menutup mata malamku
seperti harapan-harapan yang kuterbangkan ke langit hitam
agar Sang Hyang Widhi mengamininya dengan jatuhan bintang

Kemudian, kau akan jadikan aku yang menumbuhkan kebun bunga di dadamu,
dan memayunginya dari hujan kecil; dari pelupuk matamu
Karena di mataku, matamu adalah peneduh rindu yang rapuh
Dan kehadiranmu disana, selaksa penemuan Adam akan pagi, pertama kali

Inilah aku,
Sesederhana rinduku, hanya inginkan hadirmu di dalam pikiranku
sebagai peredam keinginan untuk memaksakan temu
dan kata-katamu, ialah pelengkap segala rindu
dimana malam-malam sepi tanpamu digenapkan

II. JAUH 

Meskipun sesekali, batinku terganggu
oleh kehadiran namanya dalam balut suaramu
tiada pernah hati ini lelah, memeluk cinta untukmu

Namun mengapa aku, jadi satu-satunya yang tidak bisa memintamu?
Sedang kau, selalu tahu bagaimana menaklukkanku.

Sayang, berbahagialah,
berpura-puralah tidak peduli kesakitanku
agar aku makin ikhlas melepasmu

Agar kau mengerti nanti suatu hari
meski kau merentangkan peluk untukku
tiada tempat untukku bersandar

“Kenapa kau masih mencintaiku?”
“Karena tidak mencintaimu melumpuhkan nafasku.”

Kuhargai kebahagiaanmu,
dengan cara tidak mengganggunya

Meski pada pertemuan kita nanti, matamu mungkin berbinar-binar
dan di dadaku ini, kembang api berbingar-bingar

Dan jangan tanya tentang musim pada bulu-bulu mataku.
Mereka hanya mengenal satu sejak pergimu, hujan. – @ama_achmad

III. HANCUR

Ini aku, di liang kuburku berserakan
memunguti repih-repih kecil diriku yang terpisahkan
debur makianmu yang menghancurkan
kemudian disusul dengan sebuah kepergian

Hatiku selalu menanyakan perihal kepulanganmu padaku, mungkin dia kesepian
Dan saat kau tak kunjung kembali, aku selalu mengira-ngira kau lupa jalan pulang
Hatiku menunggu, bertahan dalam kerapuhan, diterjang ribuan badai rindu usang

Seandainya kau mengerti, sayang
Diabaikan, adalah perasaan paling mematikan keyakinan
dan pengabaian, adalah jarak terpanjang semesta

Suatu hari, setiap manusia akan dihadapkan pada sebuah dilema besar:
merelakan orang yang dicintainya, demi melanjutkan hidupnya sendiri
dan inilah aku, yang berusaha melepasmu, demi kebahagiaan untukmu

Aku semestinya ingat bahwa aku harus melupakan segala ingatanku tentang kamu
Namun kita tetap bersama, dan menikmati hitungan mundur hingga perpisahan tiba

dan ketika kutemukan namanya di matamu
tak lagi kutemukan tempat untukku berteduh
Aku, cinta sejati yang tak kau perlu
Aku, cinta tulus yang tak kau mau

Aku, ingin menjadikan selamanya lebih dari sekedar kata-kata
namun doamu bukan untuk berakhir di pelukanku
maka jadilah hujan di mataku, hanya untuk menangisimu
yang hanya menangisi ketidak berdayaanmu mengejarnya

Maka inilah aku, di palung nadirku yang paling; tenggelam
oleh sisa-sisa air mataku yang terlalu debur untuk kulawan

Advertisements
December 13, 2011

(Tidak) Utuh

Hujan tumpah terlalu deras,
aku urung menangis
Langit seakan lebih tahu, apa yang
tidak diketahui manusia ini

Pulang?
Kupikir, tiada pulang yang sehangat
pelukmu

Perjalananku masih jauh
demi sepasang mata teduh
dimana kelak hatiku runtuh
dan hidup bersauh

Hujan, memulangkan angan lebih dulu
Bahkan sebelum dibangkitkan rindu

Tags:
December 12, 2011

Perjalanan

20111213-012913.jpg

Perantauan terpanjang (mungkin abadi)
terjurus jelas di matamu
pintu hati dan pikiranmu

Dan lihat kehidupanku, sayang
dirundung kecewa, merunding bencana
tetap senyum tumbuh dengan bahagia; untuk mencintaimu

Dan lihat sebagaimana hancurnya dunia
tetap kebersamaan kita adalah surga
yang kita bangun diatas luka-luka yang
kita seka.

Dan hingga akhirnya aku bisa mencintaimu
dengan khyusuk
yang lebih dari semedi pencarianmu
lebih dari doa yang memohonkanmu
setiap malam, dalam diam
lewat tetesnya air mata

Dan dekaplah raga kesayanganmu ini
yang isinya telah pergi
mungkin mati, mungkin hanya suri
tapi ingatlah, setiap nafasnya
yang pernah hidup di dadamu

Kututup pintu, kemudian melangkah pergi
Kau tetap tertidur pulas dalam selimutmu
memimpikan hidup, yang lebih bahagia dari ini
yang akan terwujud dengan kepergianku

Tags:
December 12, 2011

Percakapan Dengan Ibu

Suatu pagi aku mengadu kepada bumi
“Ibu, aku telah bersalah.
Aku terjatuh, terluka dan melahirkan tangisku sendiri.”

Siang hari, aku menemuinya lagi
“Ibu, hatiku perih.
Aku abai, khilaf hingga menoreh nafasku yang suri.”

Di batas malam, dimana kala menuju sandi, aku berpuisi
“Ibu, anakmu gagal lagi, melempar batu yang tak mampu ditemukannya lagi.”

Dini hari, aku terbangun dengan keringat hangat
“Ibu! Mimpiku bilang aku akan mati! Sendiri ditelan sepi!”

Pertiwi tersenyum, dan berkata
“Nak, berlututlah, tutup duniamu, cangkupkan tangan. Buka mata hati, dan lihatlah — Dia selalu disana, memaafkanmu.”

Kemudian sayapku tumbuh, membawaku naik pelan-pelan
Di atas telah menunggu, senyum dewa-dewi yang dulu beliau ceritakan

“Ibu, aku pulang dulu(an)..”

Tags:
December 11, 2011

Di Sana Kesedihan Bermuara

Sore ini kupayungi hati,
dari mata yang mendung
dan hujan yang akan mengiringinya.

Sayang, kenapa payung itu berlubang?

Kuperhatikan sekali lagi, beberapa lubang kecil di dada kiri.

Pernah suatu saat, kesedihan sedemikian berat.
Menghujam-hunjam perapian.
Membunuh hangat di dadaku.

Limbung,
aku bahkan sulit berdiri.

Batu,
berat langkahku,
oleh kenangan masa yang lalu.

Sayang, apa yang kau harapkan dari sebuah hati yang compang camping?
Yang patah mematah hingga bersisa keping-keping?
Yang setiap detaknya adalah hitungan mundur
dari sisa nafas dan umur?

Bila kau tahu pendek sisa umurmu, sayang, mana yang kau pilih?
Memintaku meninggalkanmu, kemudian membiarkanku bersedih sepanjang usia atau,
Menghabiskannya denganku, dan menumbuhkan kebahagiaan,
sebelum kau dan maut mencabutnya dari dadaku?

Aku hanya bisa membiarkan sebuah pelukan menjawabnya,
dan dimana pundakmu; seluruh kesedihanku menemukan muaranya.

Tags:
December 9, 2011

Malam ini, (mari) kita berdoa~

Berkenalanlah dengan jemariku, yang kokoh dalam genggamanmu,
yang hangat disela-sela rambutmu

Kemudian pun kau menutup mata, dan wajahku, katamu,
mulai muncul mengalahkan hitam

“Sayang..”
Kau tuntun jemariku, melewati setiap lembah di lehermu,
hingga lelandaian teduh di pundakmu

mereka yang buta,

belajar mengeja manuskrip-manuskrip yang purba di tubuhmu

Dan,
wajahmu nan dewi, lebih cantik dari drupadi,
mulai mendekat kepadaku,

Hingga mulai kudengar, nafas-nafas para binatang liar,
yang tak pula mengaku dari dadamu.
Hingga kukenali pula teluk-teluk di bibirmu,
yang melahirkan desah saat dihantam debur ciumanku.

Sayang,
Aku mulai bingung, entah ditengah jelajah tubuh,
atau entah kontur hutan asing yang kutemukan di dasar bumimu

dan ditengah ketersesatan kita, kau mulai menyebut nama Tuhan

Tags:
December 9, 2011

Bunga untuk…

“Halo, aku Eli, selamat datang di tokoku.”
“Halo Eli, John. Punya mawar putih?”
“Tentu, John, berapa?”
“Tiga, diikat.”
“Sebentar.. Bin, tolong 3 mawar putih terbaik untuk tuan ini!”
Dia kemudian mengajakku ke meja kasir.
“Tunggu disini saja. Untuk kekasihmu-kah?”
“Iya, untuk kekasihku, hari ini aku mengunjunginya.”
“Oh, siapa namanya?”
“Ryan.”

Hening sejenak.

“Oh, Ryan, dia wanita.”
“Oh, oke, maaf John aku…”
“Tidak apa, sudah biasa, namanya memang maskulin.”
Kami pun tertawa kecil.

“Dia tinggal di sekitar sini?” lanjut Eli.
Kuhela nafasku sejenak.
“Dia bersemayam di pemakaman dekat blok 4.”

Aku sudah di seberang jalan saat kudengar sayup suaranya.

“John, kau lupa kembalianmu!”

aku berbalik,
dan teriakanku, ditelan decit ban yang dipaksa berhenti.

Eli..

Tags:
December 4, 2011

Mimpi [?]

“TIDAAAK!! TIDAAAK!!!”
Nafasku menderu, banjir keringat di badanku. “Oh Tuhan, mimpi itu lagi.” batinku.

7.55 am, kuyakin weker pun urung membangunkanku setelah kuteriaki. Kemudian kutinggalkan ranjang, membasahi wajahku di wastafel, mengatur nafas.

“Selamat pagi, John!”
“Pagi, Eli! Mawar putih, ada?”
“Selalu ada untukmu, ganteng.”
Eli selalu tahu cara menumbuhkan senyum di wajahku, beruntunglah setiap pagi, aku selalu melewati toko bunganya.
“Masuklah, kubuatkan kopi..”
“Nantilah, aku harus..”
“Oke, ini mawarmu, titipkan salamku untuknya.” Dia tersenyum penuh pengertian.
“Terima kasih.” Kemudian aku bergegas menyeberang..

“John! Kau lupa kembalianmu!”
Aku hampir mencapai seberang jalan saat kulihat Eli, berusaha menyusulku, tanpa melihat mobil itu.

“TIDAAAK!! TIDAAAK!!!”
Nafasku menderu, banjir keringat di badanku. “Tuhan, mimpi itu lagi..”