Di Sana Kesedihan Bermuara

Sore ini kupayungi hati,
dari mata yang mendung
dan hujan yang akan mengiringinya.

Sayang, kenapa payung itu berlubang?

Kuperhatikan sekali lagi, beberapa lubang kecil di dada kiri.

Pernah suatu saat, kesedihan sedemikian berat.
Menghujam-hunjam perapian.
Membunuh hangat di dadaku.

Limbung,
aku bahkan sulit berdiri.

Batu,
berat langkahku,
oleh kenangan masa yang lalu.

Sayang, apa yang kau harapkan dari sebuah hati yang compang camping?
Yang patah mematah hingga bersisa keping-keping?
Yang setiap detaknya adalah hitungan mundur
dari sisa nafas dan umur?

Bila kau tahu pendek sisa umurmu, sayang, mana yang kau pilih?
Memintaku meninggalkanmu, kemudian membiarkanku bersedih sepanjang usia atau,
Menghabiskannya denganku, dan menumbuhkan kebahagiaan,
sebelum kau dan maut mencabutnya dari dadaku?

Aku hanya bisa membiarkan sebuah pelukan menjawabnya,
dan dimana pundakmu; seluruh kesedihanku menemukan muaranya.

Advertisements
Tags:

4 Comments to “Di Sana Kesedihan Bermuara”

  1. Satu pelukan bisa menjawab lebih dari yang seribu kata lakukan. :’)

  2. *kasih pelukan satu arah* :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: