Archive for January, 2012

January 29, 2012

Secarik Buram Pagi

pagi ini, aku terbangun dalam lengang, bahagia telah berlarian keluar
embun-embun terpaku, kicauan burung-burung bisu, matahari kehilangan paginya.

pagi ini, aku meraba-raba sisi lain ranjangku
tiada kutemukan tubuh rindu di sana
dimana kamu? air mataku mencandu jemarimu
dimana dia ikhlas hancur terseka

kita terlalu sibuk mengutuk jarak, hingga lupa menghargai waktu.
padahal, kecintaanku terhadap kamu, menghangatkan dadaku sendiri.

apakah dia seperti aku, yang selalu menyerahkan dada
untuk rebahmu dari lelah dan air mata?
apakah dia seperti aku, yang selalu meminjamkan mata
bagi sedihmu agar mengalir tanpa jadi duka?

bahagiakah kamu sudah mengambil bahagiaku? ~ @falla_adinda

sedihkah kamu telah membuat aku bersedih?

cintailah dia lebih dari aku mencintaimu, sayang
karena cintaku tak cukup hebat menahanmu tetap bersamaku
biarkan semua seperti seharusnya, sayang
seperti seharunya aku menyadari bagaimana sehausnya kamu akan cintanya

di lain semesta, aku ingin jadi kelasi
bagi perahu kayu kita
di hidup selanjutnya, aku ingin jadi kekasih
bagi hatimu yang luka

Sayangku,

kata-kata kadang hanya (k)hiasan semata, dari kenyataan
tapi kamu, ialah hiasan untuk dunia

kini, pada langit pagi aku menitipkan asa
menghapus gundah yang ditinggalkan mimpi-mimpi malam sebagai genangan di pipiku.

Tags:
January 21, 2012

Mengabadikan Kita~

selamat kehilangan pagi, amalia
selamat melipat mimpi, aditya
disini matahari sudah tinggi, amalia
dan aku memilih tetap terjaga, karena mimpi tak indah lagi tanpamu di dalamnya.

pun aku, aditya, meski fajar masih malu-malu
selimut mimpi sudah kulipat, sebab tanpamu tak ada hangat disini–di hati.

yang mencuri hangat dari hatimu, juga menghadirkan ngilu pada tulang-tulangku
amalia, aku menyerah, tanpamu aku lemah.

langit sudah menyusun rencana
menghantar debar yang sama, di serambi jantungku dan jantungmu, sebuah cinta
maka bertahanlah, aditya

akan kutunggu, amalia
segarkanlah teluk-teluk kering di dadaku
tenggelamkan dalam pelukan; atau debur-debur ciuman.

pun aku, aditya
ingin rebah di dada kirimu, merasakan lekuk lenganmu memelukku
mendengar degubmu mengeja namaku

maka rebahlah, amalia, jangan bicara lagi
biarlah malam ini jadi sunyi, dan yang terjadi; hanya menyatunya dua hati.

biarlah malam menyaksi, di dadamu aku rebah, di hatimu cinta kuletakkan, aditya
tak ada kata, hanya degub saling mengeja

maka biarkan sunyi menyaksi, amalia
saat cinta melahirkan getar, pada dada kita yang bersatu debar; hingga gelap berganti fajar.

hingga fajar, hingga senja, hingga semesta bersepakat
bahwa kita adalah sebenar-benarnya cinta, aditya

hingga umur bertemu temaram dalam senja, aku percaya, amalia
hatiku telah menemukan utaranya

hingga renta usia, hingga waktu menguzur, aku percaya, aditya
hatiku, telah menemu rumahnya; kamu

maka menggenggamlah dalam jemariku, berpeluklah dengan kata-kataku
lelahlah bersama perjalananku dan lelaplah dalam malamku, amalia

di jemarimu aku mengenggam, di kata-katamu aku berpeluk
di segalamu, aku memilih jatuh
seperti kini, selalu dan nanti, aditya

dan menutup umur dalam pelukanmu, mengabadikan kebahagianku, amalia

menutup mata dalam dekapmu, aditya, mengekalkan cinta–mengabadikan kita

maka tibalah saatnya aku menutup mata, amalia
meninggalkanmu dalam doa, yang kukirim kepadaNya, sedepa nafas lalu
untuk kita

Timeline, 20 Januari 2012
@commaditya dan @ama_ahmad
semoga berkenan

Tags:
January 18, 2012

Dalam Siang Menuju Malam

selamat menghangatkan siang, amalia

selamat  meneduhkan terik, aditya

ah, disini hujan, amalia
hunjamnya mungkin akan bergaung sepanjang siang
seperti jatuhku yang mungkin akan bergema sepanjang jaman

dan di sini terik; matahari memakai jubah keemasan
mungkin senja kilaunya redup,
menyisa semburat jingga di sudut langit- rindu, aditya

dan hujan makin deras disini
kira-kira apakah yang dihempas langit kepada bumi;
sedih atau bahagia, amalia?

hujan itu lagu langit
liriknya adalah rintik,
sebuah keriangan yang disambut ilalang dengan tarian, aditya

aku pun mendengarnya, amalia
sesaat tempo mereka melambat ala ritarnando
lagunya jadi begitu syahdu, melipur lara lelahku

dan aku berseru pada langit seusai hujan
datanglah sebagai angin, aditya,
sebagai sepoi yang menenangkan

tentu, amalia, aku pun ingin hadir sebagai angin
membelai bilah-bilah pikiranmu yang indah,
meneduhkan rindumu yang resah

malam ini akan kubiarkan jendela terbuka, aditya
agar kesiuhmu jatuh di keningku–singgah di ruang pejamku

maka aku akan singgah di mimpimu, amalia
mungkin hanya figuran sejenak, namun kuharap cukup riak menjejak.

menetaplah hingga fajar rekah di ufuk
mungkin di ranting-ranting cahaya,
ada harapan yang bisa kita petik, aditya

fajar akan selalu jadi harapan untuk kita, amalia, yang akan jadi energi
seperti yang dibisikkan embun kepada daun; yang membuatnya senantiasa hijau berseri.

dan kemudian, kami saling mengucap selamat malam,
mengiringi janji akan beberapa temu yang kami impikan

 

 

tulisan di atas adalah hasil berbalas twit
antara saya (@commaditya) dengan amalia (@ama_ahmad)
yang saya rangkum dan tambahkan beberapa kata,
semoga berkenan.

 

 

Tags: ,
January 16, 2012

Teruntuk, Perangkai Kata Periang Hati~

Teruntuk, Nona Amalia di bilik kecilnya, @ama_achmad

Selamat membaca, nona, yang baru saya tahu namanya
setelah membaca suratnya yang bagaikan taman kata-kata

Terima kasih, nona telah mengikuti aliran kata-kata saya lebih dulu.

Seperti nona, saya pun memiliki juga sebuah bilik kecil,
dari jendelanya terhampar luas dunia yang tersusun dari kata-kata
salah satunya rangkaian kata-kata anda yang saya amat suka
dan mereka, seperti hidup; selalu menemukan jalannya sendiri

Nona,

Mungkin kata-kata yang menuntun saya untuk menemukan bilik kecil nona
Sangat menyenangkan menikmati sajak-sajak sejuk nona bersama matahari
membasuh wajah lelah, yang tak punah setelah pada malam saya merebah
Bila ini terjadi setiap pagi, maka saya pikir, saya tak perlu bermimpi lagi

Dan tentu, bila suatu hari kita mengulang sabtu pagi, hati ini akan gembira sekali
Dia akan memaksa otak saya bekerja lebih keras, demi mengimbangi kata-kata nona
Entah di pagi yang lain, entah senja, entah malam; sajak selalu menemukan kawan
Seperti kata-kata saya yang menemukan kata-kata nona sebagai tautannya

Bila suatu hari waktu berbaik hati mengamini pertemuan kita
Janganlah ragu untuk bicara, jangan ragu untuk mengajak saya tertawa
Dan pasti, saya akan mengajak nona minum kopi–mungkin hingga pagi
dan tanpa kita sadari, mungkin kita telah membait beberapa puisi

Waktu saya telah mengirimkan aroma subuh, nona,
Mata saya menyampaikan salamnya kepada jemari anda,
“Semoga esok ada cukup rehat untuk menulis beberapa kata sehat.” katanya.
Mungkin dia meminta balasan, atau mungkin itu memang kemauan saya.

Demikian,
Surat ini, saya tutup dengan selamat pagi

Salam,

Aditya

Tags:
January 16, 2012

ORANG KETIGA

“Aku rindu.”
“Bali? Tentu, pulanglah, masih banyak keindahan untuk kau lihat.”
“Tapi kau jangan sibuk saat aku datang, aku ingin menikmatinya bersama yang terindah.”

SIMPANG DEWA RUCI.
Lamunanku dibangunkan klakson mobil di belakangku.
Beginilah dia saat siang, para mobil saling menyumpahi.
Sebagai salah satu kanal menuju bandara, dia tidak seharusnya semacet ini.

TERMINAL KEDATANGAN, NGURAH RAI AIRPORT.
Dari dalam pintu terminal, bidadariku melambaikan tangan.
“Adit!”
Maya berlari kemudian memelukku.
Sejenak kami berputar di udara, lalu kuturunkan untuk melihat senyumnya.
Kangen.” bisiknya lembut, tanpa kujawab.
“Wawan!” sapaku pada lelaki yang mengiringinya, teman baikku; tunangannya.
“Sini kubantu!”
“Halah, cuma segini! Santai!” timpalnya.
Gelak tawa mengiringi percakapan kami.
Wawan, Maya dan aku; orang ketiga.