Archive for April, 2012

April 15, 2012

Membayangkan Kita

Suatu hari aku membayangkan kita. Bercanda di teras rumah yang sering kita bayangkan bersama, akan kita bangun di masa depan. Kita bicara hal-hal yang sering kita sangsikan saat muda. Tentang dunia, cinta dan norma-norma yang dahulu gagal memisahkan kita. Betapa kuatnya kita merapalkan doa, menyelundupkan nama masing-masing kita diantara mantra-mantra. Pada doaku, namamu, beserta percikan cita cinta, kurapalkan setiap hari.

Kemudian kubayangkan aku akan menulis puisi, saat kamu kembali ke dapur untuk membuatkan aku kopi. Sebelumnya kamu bilang bahwa kamu merindukan puisi-puisiku kepadamu. Lalu aku jawab kepadamu, puisi sendiri mengatakan bahwa dia merindukan kamu dituliskan pada tubuhnya. Kamu terpana. Aku mengerti kamu tidak terlalu mengerti apa yang aku katakan, tapi kamu mengerti bagaimana semua itu menghangatkan cinta untukmu. Maka dengan sederhana kukatakan saat kamu kembali membawakan aku kopi, bahwa aku dan kamu seperti kopi dan susu. Bersatunya kita dalam kehangatan itu sangat menyenangkan.

(Aku yakin kamu tersenyum membaca ini. Kalau tidak, kamu akan tersenyum sekarang.)

Kamu tahu aku suka sekali membayangkan kehidupan baru yang akan kita bahagiakan dengan bahagia. Aku lupa kita sudah sampai mana. Ah, kita memang suka lupa ruang dan waktu bila bergembira. Saking gembiranya kita sering kekurangan waktu untuk membahasnya. Betapa waktu sangat mengerti kita. Saat kita merasa senang, dia memampatkan diri agar kita segera kembali ke dunia nyata agar kita bisa mewujudkan mimpi-mimpi. Saat kita merasa bosan, dia merentangkan diri agar kita dapat menemukan hal-hal baru.

Pernah kita saling merindukan kita yang dahulu dan kemudian saling menyampaikan. Bagaimana saat kita bertemu dulu. Bagaimana aku membayangkan kamu setiap hari. Bagaimana pesan singkatku saat merindukan bibirmu yang manis- “Karena saat melihat bibirmu, bibirku malah berlaku seperti semut membayangkan manisnya. Kemudian bibirku menggigit dirinya sendiri. Semut bunuh diri.” -yang kamu jawab dengan “hahaha” saja. Pesan singkat.

(Aku mengerti kita saling merindukan hal ini. Terutama bagi aku. Karena rindu ini ialah respon alam kepada getaran yang dipicu senyummu, yang direkam jagat pikiranku.)

Pernah dulu kita bermarah-marah hampir berpisah saat kamu membicarakan kekasih luar biasamu yang lalu. Sayang, membicarakan masa lalu adalah hakmu, namun tidak merasa sakit karenanya ialah hak kekasihmu. Aku pun kadang merindukan kamu yang dulu. Tapi aku sangat mencintai kita yang sekarang dan kemudian.

Sayang, Tuhan memahat indah tulang rusukku, menjadi kamu.

Tersenyumlah, ini adalah masa depan yang kita bahagiakan. Bukan hanya aku, atau hanya kamu. Tapi inilah kita, yang dipusatkan dunia sebagai poros. (Kata-kata barusan selalu memunculkan debat diantara kita.) Kamu percaya buku fisika, aku percaya buku sastra. Tapi kamu selalu tersipu saat fisika aku sastrakan.

Ada yang lebih mungil dari atom, lebih agung dari jagat raya, seperti cinta. Ada pula ribuan bintang, tapi kamu adalah komet hayley dan aku astronom yang sabar.

(Sesungguhnya saya sangat mencintai istri saya. Namun dia sedang terperangkap di masa depan hingga nanti saya bebaskan.)