Archive for June, 2012

June 12, 2012

Masih

Dia baru saja sadar berpikir ketika dia bertanya kepada ibunya, tentang nasi yang diletakkan pada sepetak daun, yang dikumpulkan ibunya setiap pagi dan petang, yang kemudian beliau letakkan pada tugu dan beberapa tempat di sekitar rumahnya. Jotan, sebuah penghaturan, persembahan kepada dewa-dewi mereka, bentuk syukur yang mereka-orang Bali lakukan demi menjaga kelangsungan nafas pulau mereka.

“Sudah lakukan saja, Gek, memang begitu biasanya.” jawab ibunya. Setengah kecewa ia kembali ke kamarnya.

Suatu hari dia bertanya lagi, mengapa setiap bulan penuh mereka berpakaian begitu lengkap. Kebaya, songket dan pemerah bibir, lalu menghaturkan canang-dengan bunga lengkap dan dupa berkeliling di sekitar Griya, tidak seperti sehari-hari. “Sudah kamu ikut saja, memang begini biasanya.” jawab ibunya. Sedikit kecewa, ia kembali lagi ke kamarnya.

Lima belas hari kemudian, bulan jatuh ke bumi. Berdenyut-denyut di kepalanya, mengitari perutnya, menghangatkan pangkal pahanya. Dia takut. Kemudian dia bertanya lagi kepada ibunya-tentang luka di pangkal pahanya, tentang sakit yang luar biasa di perutnya, mengapa purnama kali ini dia tidak boleh ikut maturan, tentang segala aturan yang melarangnya mendekati sanggah dan pelangkiran dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu. Kotor. “Sudah ikuti saja, memang begitu seharusnya.” jawab ibunya. Dengan kecewa ia kembali lagi ke kamarnya.

Bertahun kemudian, dia sudah tahu. Tentang bagaimana dia harus maturan, bagaimana menunaikan setiap harinya dengan sembahyang, tentang tamu yang bertandang di pangkal pahanya setiap bulan yang melarang dia berkunjung ke sanggah-maupun bercinta dengan kekasihnya. Namun di depan pintu rumahnya kali ini, tamu yang lain mengetuk hidupnya. Seorang lelaki paruh baya yang disambut meriah ibunya. Ayahnya tersenyum dalam pigura. Anak perempuan mereka akan menikah.

Setengah minggu upacara, berton-ton banten dan seharian resepsi yang melelahkan harinya. Malam itu ia mengetuk kamar ibunya dan merajuk di pelukan beliau tentang pipinya yang merah, kepalanya yang sakit, bekas melepuh selingkar rokok di punggungnya serta ratusan nyeri di pangkal pahanya yang berkuasa. “Ibu, aku tidak mencintai ini. Mengapa ibu menjodohkan aku dengan dia?”

“Sudah terima saja, memang sudah jadi kodrat perempuan kita seharusnya.” jawab ibunya. Bersama rasa kecewa, ia berjalan gontai ke kamarnya.
–untuk para perempuan yang masih terkekang adat

June 11, 2012

Bukan ingin mengasihani kamu, aku hanya tidak tega melihatmu menderita.

aku ingin masuk ke dalam kepalamu, lalu membunuh aku
aku ingin masuk ke dalam hatimu, lalu mengambil setiap bagian tubuhku
aku ingin menelusuri setiap senti tubuhmu dan tulang

sel
lubang
pori
ruas

lalu
menghapus
setiap
jejak
kenangan
yang pernah kutinggalkan

kemudian pergi tak kembali

agar tiada lagi aku, agar kau lupa tentang aku
agar hanya aku yang bisa mengingat kita

 

 

dps110612