Masih

Dia baru saja sadar berpikir ketika dia bertanya kepada ibunya, tentang nasi yang diletakkan pada sepetak daun, yang dikumpulkan ibunya setiap pagi dan petang, yang kemudian beliau letakkan pada tugu dan beberapa tempat di sekitar rumahnya. Jotan, sebuah penghaturan, persembahan kepada dewa-dewi mereka, bentuk syukur yang mereka-orang Bali lakukan demi menjaga kelangsungan nafas pulau mereka.

“Sudah lakukan saja, Gek, memang begitu biasanya.” jawab ibunya. Setengah kecewa ia kembali ke kamarnya.

Suatu hari dia bertanya lagi, mengapa setiap bulan penuh mereka berpakaian begitu lengkap. Kebaya, songket dan pemerah bibir, lalu menghaturkan canang-dengan bunga lengkap dan dupa berkeliling di sekitar Griya, tidak seperti sehari-hari. “Sudah kamu ikut saja, memang begini biasanya.” jawab ibunya. Sedikit kecewa, ia kembali lagi ke kamarnya.

Lima belas hari kemudian, bulan jatuh ke bumi. Berdenyut-denyut di kepalanya, mengitari perutnya, menghangatkan pangkal pahanya. Dia takut. Kemudian dia bertanya lagi kepada ibunya-tentang luka di pangkal pahanya, tentang sakit yang luar biasa di perutnya, mengapa purnama kali ini dia tidak boleh ikut maturan, tentang segala aturan yang melarangnya mendekati sanggah dan pelangkiran dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu. Kotor. “Sudah ikuti saja, memang begitu seharusnya.” jawab ibunya. Dengan kecewa ia kembali lagi ke kamarnya.

Bertahun kemudian, dia sudah tahu. Tentang bagaimana dia harus maturan, bagaimana menunaikan setiap harinya dengan sembahyang, tentang tamu yang bertandang di pangkal pahanya setiap bulan yang melarang dia berkunjung ke sanggah-maupun bercinta dengan kekasihnya. Namun di depan pintu rumahnya kali ini, tamu yang lain mengetuk hidupnya. Seorang lelaki paruh baya yang disambut meriah ibunya. Ayahnya tersenyum dalam pigura. Anak perempuan mereka akan menikah.

Setengah minggu upacara, berton-ton banten dan seharian resepsi yang melelahkan harinya. Malam itu ia mengetuk kamar ibunya dan merajuk di pelukan beliau tentang pipinya yang merah, kepalanya yang sakit, bekas melepuh selingkar rokok di punggungnya serta ratusan nyeri di pangkal pahanya yang berkuasa. “Ibu, aku tidak mencintai ini. Mengapa ibu menjodohkan aku dengan dia?”

“Sudah terima saja, memang sudah jadi kodrat perempuan kita seharusnya.” jawab ibunya. Bersama rasa kecewa, ia berjalan gontai ke kamarnya.
–untuk para perempuan yang masih terkekang adat

Advertisements

9 Comments to “Masih”

  1. ditunggu untuk perempuan-yang-masih-terkekang-kasta nya bli

  2. bli, aku gak bisa mingkem karena rahangku udah jatuh ke dada. nganga-nganga saking terpesonanya 🙂 kamu keren. super

  3. Tulisan yang bagus. Topik yang “masih” menarik karena “masih” juga jadi keresahan kita semua… Good job Bli.. 🙂

  4. masalah ini gk akan pernah ketemu jalan keluarnya,karna kita memang terlahir dg semua budaya usang yg terkadang tidak masuk akal,karna mereka melihat dg otak & pikiran bukan dg hati,walaupun salah mereka akan tetap melaksanakan rapuhnya budaya yg mereka yakini,

    – kita ini seperti hidup diatas kanvas putih yg penuh noda,tak pernah terhapus kecuali terinjak & terbakar – & setan tersenyum lebar melihat polah tingkah kita yg salah,,,

  5. kamu nulis ini rasanya kamu tau banget jadi wanita, hehe. keep writing then, Bli Adit 🙂

  6. Kasihan 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: