Karam (1)

Ada kala aku merasa seperti matahari, dan menganggap kamu bulan yang kuhidupi-namun terpisahkan sepanjang pagi dan malam. Jarak yang abadi.

Seperti jarak diantara kita, yang sedemikian dekat, lebih tipis dari sekat namun amat jauh dari segala. Terutama setelah kehadirannya, jarak mencapai titik terjauhnya. Ada kala kita berpelukan, dan pundakku jadi segala kolam yang menampung tangisan. Tangisanmu, air mata yang mengalir karena duka yang ditorehkannya–ialah duri-duri mawar dari pelukanmu yang menancap di punggungku.

“Terima kasih,” ujarmu lirih. Anggukanku lebih dari sekedar jawaban. Tidak perlu kata-kata yang banyak untukmu. Pelukan sudah jadi sebuah tindakan penyelamatan bagi seluruh dukamu. Aku tahu kamu mengerti apa yang aku akan selalu sediakan untukmu. Kamu tahu aku mengerti hanya inilah yang bisa kusediakan untukmu. Tidak ada saling meminta yang lebih dari ini. Mengertimu hanya untuk pribadi, sama sekali bukan untuk berbagi.

Sesungguhnya aku tak pernah bermaksud membuatmu menangis. Namun begitulah, tidak selamanya yang kumaksudkan baik, adalah benar bagimu. Kita tidak seharusnya saling mengerti. Tapi tidak juga harus menyakiti. Atau mungkin sebaiknya kita tak pernah bertemu.

Aku bahagia bila kamu bahagia. Meski bahagiamu karenaku lebih membahagiakanku daripada bahagiamu karenanya. Pernah kulihat senyummu yang penuh cinta–cinta kepadanya–aku mati hati, terkubur di liang sepi.

Ingin aku katakan segala isi pikiranku kepadamu-bukan perasaanku-tentang kamu dan dia. Bahwa dia yang sedemikian kamu cintai ialah dia yang senantiasa menyakiti. Hubungan yang sedemikian susah kamu perjuangkan, ialah hubungan yang memiliki segala alasan untuk kamu lepaskan. Namun aku tenggelam dalam ketakutanku kehilanganmu.

Sayang, aku bukan kekasihmu. Tapi beginilah aku, setia menunggumu, setia hadir dalam setiap kesedihanmu. Setia menampung setiap tetes air matamu.

Kuingatkan sekali lagi sayang, hatiku memiliki pintu yang senantiasa menunggu jemarimu mengetuk. Sebut namamu yang merupakan kunci agar pintu ini terbuka dan silahkan masuki. Namun jika terlalu lama, kamu tak pula datang mengetuk, pintu ini akan kukunci selamanya. Menutup pintu dan telinga, meninggalkanmu mengetuk di depannya.

Ternyata cara paling hebat melukaimu, ialah mengabaikanmu.

Selamat karam, kekasihku—di laut malam.

Advertisements

7 Comments to “Karam (1)”

  1. Ternyata cara paling hebat melukaimu, ialah
    mengabaikanmu.
    Hiksss,,,

  2. tulisanmu, dahaga bagi pemujamu atau candu untukku? hayooo x)

  3. Memeluknya, tapi tak memiliki: cintanya :’)

    Siap membukukan kah? 🙂

  4. speechless bang! bagus.

  5. nice 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: