Wanita Pecandu Luka (2)

 

betapa,

luka-luka menenun segala senyumnya
dan pada duka, ia muarakan air mata

barangkali dia tidak percaya kata-kata
karena kata-kata sering mengingkarinya

menciptakan jarak, untuk  ditangisi sendiri
mengobarkan cemburu, yang menghanguskan sendiri
menciptakan rindu, untuk diratapi sendiri
menoreh luka pada tubuhnya, yang lalu disesali

bahwa rasa sakit, baginya adalah candu
ketiada-bahagiaan, menyenangkan bawah sadarnya
dan ketika kesendirian mengutuknya,
dia mulai menyukainya

barangkali dia menyukai dusta
karena dusta menentramkan ketidakpastian

seperti dia menyukai hujan
karena mereka menderaskan kesedihan
membawa kembali cerita-cerita
tenggelam dalam air mata

seperti dia menikmati tembakau
ketika bara membakarnya
menikmati setiap hembus asap
dan nikotin memangkas umur

dia, wanita pecandu luka
dilupakan dunia yang ia lipur makian
ditinggalkan asa yang dia tebas sendiri

 

dps 2012

tulisan ini, saya lanjutkan dari tulisan
Ruth Dian Kurniasari – Kepada Wanita yang Menyandu Luka

Advertisements
Tags:

3 Comments to “Wanita Pecandu Luka (2)”

  1. aku sedih bacanya, (hampir) seperti sedang berkaca 🙂

  2. Ini luar biasa… Udah, gitu aja. Ini pokoknya tulisan yg luar biasa, sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: