Archive for September, 2012

September 30, 2012

Sehari yang tidak berlalu di pikiranku

:Maria

Pagi itu di tepi pantai
Seorang anak menandai detik demi detik pada pasir
dan ombak membantunya menandai menit
dengan menyapunya
Hilang

Siang itu di tengah lautan
Ombak-ombak bercengkrama, bermain air, menawa-tawa
tertambat para sampan menyaksikan
kebebasan dalam angan-angan
Lepas

Senja itu di atas batu karang
sepasang kekasih berciuman mesra dalam siluet
Perlahan menghilang
lalu saling melepaskan
Kelam

Malam itu seorang lelaki merenung
menulis takdir bersama sepasang lentera
satu menghangatkan ruangan
satu membakar kenangan
Rapuh

Pagi itu di tepi pantai
Seorang wanita menandai detik demi detik pada pasir
dan ombak membantunya pulang
Hilang

Patutkah segalanya berhenti?

Banjar, 30 Sep 2012

Advertisements
September 26, 2012

Kelak, Suatu Pagi, dari Matamu Kupetik Matahari

I.

tuhan, aku kecanduan
hatiku luka
bibirnya cuka
dan aku menikmati ciuman

tuhan, ini kehampaan
ibarat doa
tanpanya dosa
dan aku menunggu kematian

 

 

 

(bersambung..)

dps2012

September 19, 2012

Tiga

Sehari lalu, dia masih di sini. Menabur tawa-tawa kecil yang senantiasa lupa dia simpan. Hingga di kemudian hari, kami kehilangan mereka hingga ke akar-akarnya. Alasan. Akar yang menopang. Hilang yang menebang.

Hari ini dia pergi. Waktu terlalu deras. Seakan terburu mencari muara. Siapa yang merindukan ombak? Aku tidak. Aku membutuhkan dia. Aku akan melacurkan kepalaku. Memacu lidahku, memecut otakku. Aku harus punya kata-kata, agar diam tidak keburu hadir. Aku membenci diam, karena diam hanya akan menciptakan jarak. Semesta melebar olehnya. Semakin diam, semakin abai. Semakin lama, semakin mendekati usai.

Dia mengusap-usap kepalanya. Entah apa yang tersisa di sana. Dia tidak tahu, aku pun tidak. Meski demikian, dia harus menemukannya, sesuatu yang dia pikir cinta. Semestinya tersimpan rapi di sebuah almari, terbungkus kenangan. Dia ingin menemukannya, untuk dibukanya kembali, lalu kami nikmati bersama. Buah kesukaan kami. Buah yang pernah membuang Adam dan Hawa ke bumi, yang kemudian menghasilkan kami. Namun sejauh dia meraba, yang terasa hanya duka. Tenggelam dalam hitam, bukan yang seharusnya.

Sehari lalu, dia masih di sini. Masih memberi kehangatan yang semestinya, tanpa banyak bicara. Tiada yang lebih dia minta dari pelukan yang erat di atas ranjang. Tiada ciuman yang dia minta, tak pula dia curi seperti biasa. Kali ini aku yang memberinya. Akulah yang merindukan bibirnya. Bibirkulah yang merindukan lidahnya. Tubuhkulah yang menginginkan dekapnya. Cinta itu, aku yang menagihnya.

Sayang. Aku sungguh sayang padanya. Dia mengetuk pintuku dengan lembut. Sayang terbuka dengan rela, tanpa paksa. Sayang. Aku terlanjur sayang. Sayang. Kuberikan dia sayang, maka kemudian menyusul segala. Mereka sebut itu cinta. Meski membatasi takaran cicipan untuk manusia.

Kami menyambut pagi dengan keringat yang telah bercampur pada tubuh kami masing-masing. Dia menghadiahi aku senyuman, aku menghadiahi dia debar-debar rentan. Cukup adil. Aku tidak terlalu membutuhkan orgasme itu. Puncak itu, bisa aku daki sendiri. Tapi aku hanya mau dia, mendiktekan aku mantra-mantra yang kemudian kurapal disela-sela nama tuhan.

Bapa. 

Hari ini dia pergi. Matahari ikut menyertainya, aku menggigil lagi. Lelaki itu telah menjemputnya, mengantarnya menuju pagi yang lain. Lelaki itu datang tiba-tiba. Tidak mengetuk, tidak pula bersalam. Lelaki itu tahu. Lelaki itu hanya membuka pintu, kemudian menunggu setengah detik untuk mengenali, yang mana yang berteriak kaget. Yang mana bukan tubuh istrinya. Senjata di tangannya telah siap diletupkan.

Dor. Dor. Dor.

Tags: ,