Archive for October, 2012

October 21, 2012

Kelak, Suatu Pagi, dari Matamu Kupetik Matahari

II.
Tubuhmu daun
lidahku embun
dan kita,
pagi yang mengalun

Bibirmu bumi
mataku mendung
dan kita,
siang yang kehujanan

Dadamu lautan
ciumanku matahari
dan kita,
senja yang berkumandang

Matamu langit
senyumku bintang
dan kita,
malam yang benerang

(bersambung..)

dps2012

Advertisements
October 16, 2012

Bagimu, Bagiku.

Siapa kamu?

Perempuan itu kaget, dia spontan membuka matanya, mengangkat kepalanya dari pundakku sembari menumpu tangannya di dadaku. Matanya tidak melepas mataku.

Apa-apaan kamu?

Dia balik bertanya, dengan ketersinggungan yang jelas menghidupkan nadanya. Dia memandangiku makin lekat. Aku makin bingung.

Siapa kamu?

Pertanyaanku masih sama. Jujur. Tidak dibuat-buat. Aku masih berusaha membuka mataku, agar mampu melihat wajahnya secara penuh. Agar mungkin aku bisa mengenalinya. Perempuan itu kemudian bangun. Menggerutu tidak jelas. Dia berdiri di atas tempat tidur, melemparkan selimut yang tadinya membalut tubuhnya kepadaku. Sinar matahari yang menyelinap dari gordyn saat itu seperti berpesta di tubuhnya. Matahari mendadak culas, mencahayakan lekuk-lekuk tubuh–yang nampaknya ditempa di sebuah klub fitnes secara reguler berseling dengan polesan salon yang mahal. Mahadewi, tubuhnya begitu indah. Kami berpandangan dalam keheningan. Efek blur pada lensa mataku sudah hilang. Namun aku masih saja sulit mengenali perempuan ini.

Siapa kamu?

Pertanyaanku yang masih sama. Kemudian disusul ribuan sumpah serapah. Perempuan itu turun dari tempat tidur, memungut satu per satu pakaian yang berserakan di lantai. Pakaiannya dia simpan di dadanya, ditahan dengan tangan kiri. Yang bukan pakaiannya dia lempar menuju wajahku. Gerutuan itu memasuki kamar mandi, sesaat samar-samar ditelan suara air yang mengucur deras dari keran, kemudian mendominasi lagi setelah bunyi ngik tanda keran ditutup. Belum 5 menit, gerutuan itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, berdiri di depan ranjang dan diam.

Siapa kamu?

Pertanyaanku masih sama.

Bangsat kamu. Anjing. Laki-laki dimana-mana sama saja!

Betapa murka jawabnya, menyusul langkah rusuh menuju pintu kamar, yang kemudian dibanting dari luar. Brak!

Aku masih terpana. Pikiranku masih bertanya. Namun kali ini bertambah dua.

Siapa dia?

dan, Apa salahnya bertanya hal yang tidak aku tahu?

 

 

dps2012