Bagimu, Bagiku.

Siapa kamu?

Perempuan itu kaget, dia spontan membuka matanya, mengangkat kepalanya dari pundakku sembari menumpu tangannya di dadaku. Matanya tidak melepas mataku.

Apa-apaan kamu?

Dia balik bertanya, dengan ketersinggungan yang jelas menghidupkan nadanya. Dia memandangiku makin lekat. Aku makin bingung.

Siapa kamu?

Pertanyaanku masih sama. Jujur. Tidak dibuat-buat. Aku masih berusaha membuka mataku, agar mampu melihat wajahnya secara penuh. Agar mungkin aku bisa mengenalinya. Perempuan itu kemudian bangun. Menggerutu tidak jelas. Dia berdiri di atas tempat tidur, melemparkan selimut yang tadinya membalut tubuhnya kepadaku. Sinar matahari yang menyelinap dari gordyn saat itu seperti berpesta di tubuhnya. Matahari mendadak culas, mencahayakan lekuk-lekuk tubuh–yang nampaknya ditempa di sebuah klub fitnes secara reguler berseling dengan polesan salon yang mahal. Mahadewi, tubuhnya begitu indah. Kami berpandangan dalam keheningan. Efek blur pada lensa mataku sudah hilang. Namun aku masih saja sulit mengenali perempuan ini.

Siapa kamu?

Pertanyaanku yang masih sama. Kemudian disusul ribuan sumpah serapah. Perempuan itu turun dari tempat tidur, memungut satu per satu pakaian yang berserakan di lantai. Pakaiannya dia simpan di dadanya, ditahan dengan tangan kiri. Yang bukan pakaiannya dia lempar menuju wajahku. Gerutuan itu memasuki kamar mandi, sesaat samar-samar ditelan suara air yang mengucur deras dari keran, kemudian mendominasi lagi setelah bunyi ngik tanda keran ditutup. Belum 5 menit, gerutuan itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, berdiri di depan ranjang dan diam.

Siapa kamu?

Pertanyaanku masih sama.

Bangsat kamu. Anjing. Laki-laki dimana-mana sama saja!

Betapa murka jawabnya, menyusul langkah rusuh menuju pintu kamar, yang kemudian dibanting dari luar. Brak!

Aku masih terpana. Pikiranku masih bertanya. Namun kali ini bertambah dua.

Siapa dia?

dan, Apa salahnya bertanya hal yang tidak aku tahu?

 

 

dps2012

Advertisements

5 Comments to “Bagimu, Bagiku.”

  1. hanjissssssssss x))

    *udah gitu doang*

  2. Hoho, seru!
    Singkat yang runut.

    Ada 2 kalimat yang mengganggu:
    Pakaiannya dia simpan di dadanya, ditahan dengan tangan kiri. Yang bukan pakaiannya dia lempar menuju wajahku.

    Ada 2 kata “dia” yang aneh. Sepertinya gaya tutur bahasa Bali teraduk di kedua kalimat itu.
    Coba diganti dengan kalimat aktif, pasti kesannya lebih anjing! hehehe

    • Wah, sebenarnya maksudku adalah:

      “Pakaiannya, dia simpan di dadanya, ditahan dengan tangan kiri.
      Yang bukan pakaiannya, dia lempar menuju wajahku.”

      Aku merasa lalai memenggal kalimat. Terima kasih, Ayah! :3

  3. Ini dahsyat hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: