Dipeluk Gelap

Malam itu kita telah mematikan lampu lalu menunggui remang ditelan gelap–pelan-pelan. Namun ada setitik cahaya yang melawan, terbang cepat kesana kemari, bermain angin–riang tak mau diam, tanpa takut terbentur malam.

Apa itu sayang, tanyamu risau, seakan tak rela dia mengusik gelapmu.

Sayang, sepertinya cahaya itu kunang-kunang. Mungkin saja dia terpisah dari kawanannya dan dia masuk sebelum kita menutup pintu. Jawabku tenang, dan matamu jadi terang.

Tanyamu lagi, kenapa tak segera kita buka pintu dan membiarkan dia pergi mencari kawanannya?

Tunggu, jawabku, mari sejenak berandai-andai tentang gelap ini, dan kunang-kunang itu.

Sayang, gelap ini ruang di dadaku dan cahaya itu mungkin senyummu, yang jadi harapan dalam ketiadaan. Sayang, gelap ini ruang di hatiku dan cahaya itu nanti akan jadi api, yang menghangatkan hatiku nanti.

Lalu kau memelukku dan berbisik: aku bahagia malam ini, sayang–tanpa melihat senyumku karenanya, dan kau pun merebahkan dada di dadaku.

Maka segeralah aku menyentuh bibirmu, menjawabmu dengan ciuman-ciuman, mengaliri kata-kata yang kemudian diserap lidahmu; menyampaikanmu rasa-rasa yang rentan. Sebelum nanti aku membuka pintu dan membiarkan kunang-kunang itu pergi, kembali mencari kawanannya–dan engkau, pergi kembali kepadanya.

dps2012
#KopiKulturChallenge tema #KunangKunang adalah usul dari @mbakanggun

Ilustrasi #KunangKunang dari @eshasw

Ilustrasi #KunangKunang dari @eshasw

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: