Di Tengah Perjalanan

Lihat-
Rindu mengembun di lensa kaca mataku
dan demikianlah sebuah nama meniupkan kesedihan dengan sederhana
Namamu
Pilar-pilar tubuhmu
Bilah-bilah nafasmu
Binar-binar suaramu
Yang tersepuh di dalam kalbuku

Yang senantiasa nampak meski pertualangan membawaku jauh
hingga nanti, rentangan tanganmu untukku jadi sambutan kepulangan

Sayang, puisi sesungguhnya terlalu rimbun untuk jadi tempat berteduh
Tiada siang yang benar-benar hangat, tiada malam yang benar-benar sepi
Ketiadaanmu membuat siang mengigil sementara,
rindu dan bayangmu senantiasa membuat malam sedemikian ramai

Malam ini-

Di kamar ini, aku, dibisiki para binatang malam untuk tinggal
Kemudian kutulis puisi-puisi kecil yang tak pernah mampu mereka rebut dariku
Sebab setiap kertas ini ialah kebun bunga, yang kelak akan kulipat
jadi lingkaran sajak yang melengkungkan senyum di wajahmu

Oh, tangis-

Bahwa kau sesungguhnya tetesan puisi berbalut air mata
Dan aku melihat kesepian sebagai hal-hal yang patut dirayakan
Sebagai hal-hal yang ingin dihadiahkan
dengan mengenangmu, misalnya

Aku memujamu, sayangku-

Di depanmu, sayang; lutut ini rela mencium bumi lebih lama dari sepatutnya
Di hadapanmu, kata-kata senantiasa berubah iya bagi setiap pinta
Aku ingin menciummu seperti matahari kepada lautan cakrawala
–perlahan, intim dan basah

dps2013

Advertisements

One Comment to “Di Tengah Perjalanan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: