Pecandu Rasa

Pertama,
Ia mengutus awan. Menutup tirai langit dan menghalangi sinar matahari. Demikian, aku hanya bisa tersenyum kecut. Bahkan di bawah pohon besar ini, aku tidak merasa aman.

Kedua,
Ia mengutus hujan. Menyampaikan salamnya yang lembab dan basah kepada tanah. Lalu mereka bercengkrama lewat suara-suara yang derak sepanjang siang yang tidak terlihat. Matahari sembunyi. Mendengarkan bagaimana rindu disampaikan dari balik tirai. Sesekali dia menyibak tirai–mengintip–lalu menyuarakan guntur karena terlalu kaget dengan keintiman hujan.

Ketiga,
Ia membuka tirai, melenggang tenang. Menikmati aroma yang terbang dari pori-pori tanah. Ia adalah seorang pecandu. Ia adalah seorang penghibur. Ia bukan siapa-siapa. Ia ada, dan tiada.

Keempat,
Ia memerintahkan seorang penyair, menulis manuskrip hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: