Archive for June, 2013

June 29, 2013

Rapuh Sejak di Dalam Pikiran

:maria

/1/
Kata-kata yang menghancurkanku berkeping-keping. Kata-kata pula yang merekatkanku kembali. Namun begitu, tidak sepenuhnya utuh. Tidak akan pernah kembali utuh.

/2/
Kita mengikat benang di pergelangan masing-masing, karena kita takut akan perpisahan. Lalu kau menggigit jarimu, mewarnai benangku dengan darahmu: Ini aku, yang paling dekat ke nadimu, sayang–begitu katamu. Aku pun mengambil kalimat itu, lalu menyayat genggamanku dengan tajamnya. Kugenggam benangmu hingga menyerap darah dari genggamanku. Aku tidak berkata apa-apa. Karena kata-kataku telah habis, jadi satu pikiran di pergelangan tanganmu.

Aku rela mati di bibirmu, sayang.

/3/
Cium aku kuat-kuat. Tiada esok yang akan menyambut kita, karena esok telah tiba hari ini. Masuklah ke dalam dadaku, bersama hujan yang tak berhenti hingga kita menangis kedinginan, meratapi kehilangan masing-masing: akan sebuah dosa, yang kita samarkan dalam doa. Bernafaslah dengan paru-paruku, karena paru-parumu yang hancur karena asap rokok. Makanlah dengan lidahku, karena lidahmu telah mati rasa oleh kopi pagi. Kugantikan setiap nadimu yang cacat. Kujadikan kau manusia yang baru.

/4/
Cium aku kuat-kuat, karena esok telah tiba hari ini.

dps2013
bersama dua gelas bir

June 18, 2013

Yang Tidak Pernah Cukup

:na

Aku ingin sekali dipulangkan waktu ke pelukanmu, namun selama ini, aku dan waktu selalu berselisih. Bukan perihal jarak, rindu atau hal-hal yang menyebabkan aku tak mampu merengkuhmu. Namun bagaimana waktu selalu mampu menghadirkan kesepian yang entah–hingga aku mampu mendengar bagaimana detik-detik terjatuh, bagaimana gir-gir di dalam jam tangan bergerak, bagaimana udara mengalir dari paru-paru menuju kepalaku; membentuk kata-kata (dan mengalir kembali menuju jemari, meniup pula aliran darah untuk mengetikkan kata-kata ini).

Seandainya waktu hendak menghadiahkan pertemuan sebentar lagi, aku ingin beberapa saat menghapal setiap puisi yang kutulis ketika menghabiskannya. Lalu biar waktu mengalah sejenak, ketika aku menjarahkan mereka pada bibirmu.

 

dps2013
ketika kesulitan kopi

June 17, 2013

BBM dan Senandung Nasi

:na

Jika boleh aku dengungkan (dan tentu saja menurutku boleh), aku ingin melawan segala yang engkau khawatirkan tentang kenaikan BBM dan segala dampak setelahnya. Karena aku, ialah penangggung bahagiamu–yang akan menjamin nasimu (selain merawat senyummu dengan puisi).

Sayang, jangan menangis. Beras mungkin akan semakin mahal (demikian pun dengan senyum beberapa orang), namun kebahagiaan akan muncul pada sudut-sudut sempit dan ruang sederhana. Seperti nanti, ketika aku akan menukar setengah nasiku dengan setengah kuning telurmu.

(atau, bagaimana aku menyimak ide bodohmu: mengisi 2 hari terakhir setiap minggu dengan makan nasi berkecap dan mengurangi jalan-jalan keliling taman)

Sayang, sudahlah.

BBM boleh naik lagi, namun kita tahu; cinta macam kita tak bisa dibeli.

 

dps2013
bersama segelas hot chocolate

June 10, 2013

Selamat Malam, Pak Sapardi

I.

Selamat Malam, Pak Sapardi. 

Dengan tulisan ini saya ingin mengabarkan bahwa di negara kita banyak sekali orang yang ingin menjadi seperti Bapak. Beberapa menuliskan tentang keberadaan pedih dalam tetesan Hujan di setiap Bulan Juni. Beberapa mengerami sunyi yang dipantulkan riak genangan hujan setiap sore, untuk dituliskan malam harinya sebagai kesedihan yang agung.

Sampai saat ini, tetesan-tetesan tangis yang yang selama ini dipuja kaum itu, telah saya dulang menjadi beberapa kata. Namun beginilah, Pak. Kesedihan yang dihantarkan rintik Hujan Bulan Juni, adalah kesedihan yang dipuja banyak mereka setelah Bapak. Mereka yang tidak menyadari, kesedihan Hujan bulan setelahnya–mau pun kekeringan di musim lainnya; ada yang lebih menyakitkan.

 

 

dps2013

June 2, 2013

Asumsi

 

“Sudahkah kamu menemukan seseorang?” Lelaki itu bertanya tiba-tiba.

Sang perempuan terkejut atas pertanyaan itu, namun berusaha tidak menoleh seketika, ia menghela napasnya sebentar. Pikirannya memikirkan beberapa hal yang ingin dia suarakan. I found you.

“Sudah, tapi dia sudah punya kekasih,” jawab sang perempuan.

“Oh, sayang sekali. Berarti dia bukan aku, karena aku sedang sendiri,” timpal lelaki itu. Tawa kecil terselip di sela katanya. Dia segera menghisap rokok di tangannya, menutup kata-kata selanjutnya.

Senyum sang perempuan menyambut tawa itu, kemudian mengalihkan pandang ke arah entah.

Tanpa mereka sadari, suara retakan bergema di dada masing-masing mereka. Dua hati, patah di saat yang sama. Saling mencintai, namun saling mematahkan hati sendiri.

Tags: