Rapuh Sejak di Dalam Pikiran

:maria

/1/
Kata-kata yang menghancurkanku berkeping-keping. Kata-kata pula yang merekatkanku kembali. Namun begitu, tidak sepenuhnya utuh. Tidak akan pernah kembali utuh.

/2/
Kita mengikat benang di pergelangan masing-masing, karena kita takut akan perpisahan. Lalu kau menggigit jarimu, mewarnai benangku dengan darahmu: Ini aku, yang paling dekat ke nadimu, sayang–begitu katamu. Aku pun mengambil kalimat itu, lalu menyayat genggamanku dengan tajamnya. Kugenggam benangmu hingga menyerap darah dari genggamanku. Aku tidak berkata apa-apa. Karena kata-kataku telah habis, jadi satu pikiran di pergelangan tanganmu.

Aku rela mati di bibirmu, sayang.

/3/
Cium aku kuat-kuat. Tiada esok yang akan menyambut kita, karena esok telah tiba hari ini. Masuklah ke dalam dadaku, bersama hujan yang tak berhenti hingga kita menangis kedinginan, meratapi kehilangan masing-masing: akan sebuah dosa, yang kita samarkan dalam doa. Bernafaslah dengan paru-paruku, karena paru-parumu yang hancur karena asap rokok. Makanlah dengan lidahku, karena lidahmu telah mati rasa oleh kopi pagi. Kugantikan setiap nadimu yang cacat. Kujadikan kau manusia yang baru.

/4/
Cium aku kuat-kuat, karena esok telah tiba hari ini.

dps2013
bersama dua gelas bir

Advertisements

One Comment to “Rapuh Sejak di Dalam Pikiran”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: