Sebuah Catatan

Tidak terasa, sudah hampir sebulan menjalani konsekuensi sebuah pilihan. 21 hari, tepatnya. Betapa selama ini angka 21 adalah angka yang berarti untuk saya. Lahir pada tanggal 21, dan saya sering mengartikannya sebagai dua menjadi satu. Apalah.

Untuk saya, melepaskan diri (resign) dari sebuah pekerjaan sesungguhnya bukanlah hal yang mudah untuk diputuskan, meskipun pekerjaan tersebut kita anggap tidak lagi cukup untuk memenuhi ekspektasi kita akan sebuah tantangan, mau pun menunjang mimpi saya mengejar sebuah kesuksesan.

Setelah 7 tahun hidup dalam keteraturan dan penuh jaminan keamanan finansial, bulan ini saya memutuskan meninggalkannya semua. Meninggalkan hal-hal yang saya kerjakan setiap hari; kadang penuh cinta, kadang penuh benci–lalu memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, yang ternyata sangatlah sulit untuk dilakukan. Tidak benar-benar tidak melakukan apa-apa, sesungguhnya. Masih ada kuliah S2 yang perlu saya selesaikan. Namun bulan ini, kuliah sedang libur. Sesungguhnya saya merencanakan untuk liburan keluar pulau Bali. Namun belum ada yang bisa direalisasikan.

(Tunggu, bahasa saya agak aneh yak? Terlalu resmi nggak? Peduli amat, hahaha)

Jadi begini. Sebenarnya tulisan ini saya tulis untuk mengisi kekosongan blog ini, dan mengimbangi isi blog ini dengan hal yang lebih pribadi. Jadi tidak hanya puisi, tapi juga beberapa catatan perjalanan yang ingin saya bagi kepada kalian. Karena pada beberapa kesempatan, hidup memberi saya banyak pelajaran. Sepertinya baik untuk saya apabila saya bisa berbagi beberapa pengalaman saya dengan teman-teman; terutama beberapa yang tidak bisa bertemu langsung dengan saya.

Bagaimana rasanya resign?

Bebas. 3 tahun belakangan pekerjaan saya mengalami tingkat terberatnya. Tidur kurang, sakit kepala rajin berkunjung, dua kali opname, namun jika boleh saya nilai; pekerjaan saya tidak membawa saya kemana-mana. Naik pangkat hanya ada di atas kertas, pekerjaan tetap diisi hal yang sama. Dan satu lagi, tidak berkembangnya pengetahuan dan terutama finansial. Umur pekerjaan saya bisa dibilang relatif pendek, namun dalam hemat saya, setelah menimbang lagi tentang kebutuhan masa depan, saya perlu yang lebih dari ini.

Bebas. Setelah memilih jadi freelancer saya mengalami banyak pengalaman baru yang saya tidak dapatkan di kantor lama. Meskipun sebelumnya, saya mengambil pekerjaan freelance juga ketika masih bekerja di kantor lama, namun terasa bahwa pekerjaan yang menumpuk membuat kedua pekerjaan dikerjakan dengan kemampuan 50%, dan hasilnya pun tidak pantas untuk saya banggakan. (Jangan salah, pekerjaan saya dapat nilai bagus, namun untuk saya belum cukup)

Maka dari itu, saya mengambil kesempatan untuk menjadi freelancer seutuhnya. Banyak pekerjaan yang datang, namun tetap bisa kita atur sendiri. Dan tentunya, lebih produktif secara finansial sambil belajar menjaga kondisi kesehatan. Ini adalah tantangan baru untuk saya.

Bila belum mampu terbang tinggi, maka bebaskanlah dulu dirimu dari ikatan yang menghalangimu berlari.

Tulisan ini bukan bermaksud membuat kalian berpikir untuk meninggalkan kantor atau pekerjaan kalian yang rutin sekarang, karena saya percaya kemampuan orang berbeda-beda. Selain itu, sangkar besi tidak akan mampu mengubah elang menjadi burung nuri.

Ciao~

Putu Aditya

Advertisements

2 Comments to “Sebuah Catatan”

  1. Waaaaww…keren sangaaatt…alu elang,yg selama ini mungkin msh terkurung sangkar besi, tapi aku belum mau beristirahat dg tenang walsu aku letih.. aku tidak ingin menjadi burung nuri,bli..Thank’s atas isi blog ini yg kembsli memberikan aku suntikan semangat yg hampir mati..

  2. Menarik membacanya 🙂 Satu lagi pertanyaan saya, apakah ada perasaan tidak enak/tidak nyaman pada orang-orang sekantor saat memutuskan resign? Karena dalam satu kasus, ada pula yang sudah berniat resign namun terhalang karena mesti berpisah dengan teman sekantor 🙂

    Kalau saya sendiri memang tidak ada jiwa kantoran, baru percobaan beberapa bulan sudah tidak mau perpanjang kontrak. Rasanya kaya diiket. Ngeri. Haha tapi memang tiap individu beda-beda ya, kalau saya jiwa petualang tidak cocok seharian penuh stuck depan laptop begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: