Batavia (1)

Perjalanan.

Ini bisa jadi sebuah hal yang beberapa orang dambakan selalu dalam hidup mereka. Ada yang ingin jauh dari hal-hal yang biasa mereka lakukan, ada yang ingin melanjutkan pencarian untuk yang mereka sebut rumah, dan ada yang ingin sekedar mengisi halaman instagram mereka dengan foto-foto baru. Apa pun hasil akhirnya, perjalanan selalu mendorong saya untuk mencari hal-hal baru untuk menginspirasi stagnansi yang beku di pikiran saya untuk bergerak. Proses ini yang orang-orang (termasuk saya) sebut dengan pencarian–bukan karena tersesat– tapi karena sebuah hal kadang baru kita mengerti kebutuhannya (atau keberadaannya) justru hal tersebut ditemukan.

Perjalanan. Bulan lalu, saya menjalani sebuah perjalanan ke-sekian menuju Batavia. Saya tidak suka menyebutnya Jakarta. Setiap orang bertanya mungkin akan saya katakan dengan Jakarta, tapi di kepala saya selalu otomatis tertulis Batavia. Teman-teman selalu berkelakar tentang bagaimana saya justru berselancar ke Batavia, sementara orang-orang dari Batavia malah berlomba-lomba berlibur ke Bali. Kadang saya meminta mereka menganggap saja bahwa ini pertukaran pelajar (atau pertukaran orang stress, silahkan).

Saya suka ke Batavia. Tapi hanya sekedar liburan saja. Jika orang-orang Batavia menganggap liburan mereka ke Bali adalah untuk melepas stress dan mencari santai, pelarian dari kepenatan rutinitas mereka; anggap saja saya sebaliknya. Saya datang kemari mencari stress dan melepas santai. Dan ternyata itu adalah hal yang aneh, karena di sini yang terjadi justru sebaliknya.

Saya datang dan merasa amat santai. Mungkin ini adalah pengaruh dari Raja segala kesantaian Jakarta: Tuan Fahrizal Cecep nan Tawakkal. Gaya hidupnya yang amat lifestyle nan full easy man penuh ke-selo-an jadi soko guru bagi setiap aspek kehidupan saya. (tentu saja, saya salah satu followersnya hahaha). Tentu saja ini berkaitan pada pertemuan dengan teman-teman baik yang tadinya hanya saya lihat akunnya saya di timeline, hingga reuni-reuni kecil dengan sahabat lama.

Pada hari pertama kedatangan saya, setelah  check in di Harris Hotel Tebet–properti dari Tauzia yang selalu jadi kesukaan saya, selalu bisa saya andalkan di dalam dan luar kota. Its always feels like home.

Harris Hotel, Tebet

Harris Hotel, Tebet

Siang itu saya habiskan dalam sandera pengantin baru yang ditinggal suaminya: Falla Adinda, yang mengajak saya makan siang dan keliling shopping. Terus terang saya heran dengan kemampuan wanita mengelilingi Mall yang besarnya hampir sekompleks perumahan saya di Bali, tanpa terengah-engah, dan mencoba ini itu untuk mencari yang cocok bagi mereka. Dan herannya: tidak beli apa-apa (*digantung di kusen*).

Malam saya habiskan tenaga di lapangan basket bersama Rendi Imandita, Boma Septiago dan Dwika Putra (bertemu Evan Januli juga, tapi dia pulang cepat).

Basket

Basket

Hari kedua agenda bertemu teman-teman bertambah. Salah satunya adalah mengunjungi PS dan membantu mamang Ouiche (Aditya Tirto@ouicheId) membagikan pastry kecilnya kepada para pemesannya–yang ajaib, Adit membawa satu koper besar yang hanya berisi ouiche dan habis! Iya, habis. Sebagai salah satu penggemar @OuicheId, saya paham kenapa Mbak Siska Yuanita, Ryana Paradina dan Mbak Pashatama senyum-senyum terus begitu memegang pesanan ouichenya.

Sorenya saya terdampar di Fatback, lantai bawah Fx, minum kopi sambil mendengar anak-anak @akustikasik berdendang. Bertemu Rangga Pranendra, si gitaris asik untuk pertama kali, menyapa Anes, Disa Tannos dan (lagi-lagi) Dwika Putra. Dalam #halalbihalal @akustikasik ini, saya ditodong Dwika Putra. “Bolehlah, segenjreng dua genjreng,” katanya.

Gitaran di Fatback FX #HalalBihalalAkustikAsik

Gitaran di Fatback FX
#HalalBihalalAkustikAsik

Malamnya cukup rusak. Karena setelah mengadu peruntungan di Coffewar-menikmati Dadang @dialogdinihari dalam #TributeToPearlJam, saya bertemu dua raja pemabvk (iya, dengan ‘v’) Irfan Ramly dan yang mulia Fahrizal Tawakkal (bersama ibu suri, Dila Difakuma, tentunya) hingga pagi bercerita tentang hal-hal aneh yang membuat saya tertawa sampai pagi.

Dadang Dialog Dini Hari

Dadang Pranoto — Dialog Dini Hari

Hari minggu berlalu dengan ketiduran sampai siang. Karena beberapa teman yang berencana beribadah Metallica sudah berangkat lebih dahulu ke venue, saya memilih jalan-jalan sendiri mengisi sore. Tidak, saya tidak menonton Metallica. Bukan tidak suka Metallica, grup band ini memang berpengaruh dalam perjalanan musik orang-orang, namun sepertinya cukup untuk saya memperhatikan keriaan dari timeline saja.

Rencana jalan sendiri hanya tinggal rencana. Alexander Thian (iya, amrazing yang terkenal itu) dan Trisca Dewi mengajak saya makan siang (yang agak sore) di Sushi Tei. Kebetulan saya cukup murahan jika dirayu dengan Sushi Tei, jadi ya, begitulah. Setelah itu, tentu saja, nongkrong kopi dan ngobrol-ngobrol hingga senja menunggu Dhanang Ernawan menjemput saya.

Kemana?

Ke Kedai Lentera. Bertemu para penggerak Malam Puisi Jakarta yang berencana mengadakan #MalamPuisi di SocMedFest Oktober nanti. Simbah Lukman, Reza Syariati, Tiara Iraqhia, Iphank (lagi), Bhagavad Sambadha, Diki Umbara dan Bentara Bumi sudah menunggu saya untuk berbincang dan berbagi semangat Malam Puisi.

Bagi teman-teman yang belum tahu, #MalamPuisi adalah sebuah ruang untuk membaca dan menikmati puisi yang telah digerakkan di berbagai kota di Indonesia. Sampai saat tulisan ini dibuat, sudah 8 kota yang mengadakan #MalamPuisi dan 4 kota lain sedang membangun ruang untuk #MalamPuisi. Kami mohon doa restu teman-teman dan dukungannya bila ada #MalamPuisi dibuka di kota kalian. Silahkan baca-baca di sini.

Perjalanan saya di Batavia masih berlanjut. Masih ada cerita tentang buku kedua saya (yes!), dan #AkustikAsik #TributeToDewa, tapi sepertinya saya lanjutkan besok saja tulisan ini. Lelah sudah mengusik terlalu banyak. Bukan menyerah, namun tak semua perang harus dimenangkan hari ini. Save today, fight tomorrow.

Salam,

Putu Aditya
@commaditya

NB: Ini sebenarnya tulisan awal bulan september yang saya lupa posting karena kesulitan koneksi internet. Maklum baru pindah rumah. Hehe.

8 Comments to “Batavia (1)”

  1. Kapan kita minum kopi bersama lagi, bli? Dari penggemarmu yang awam 🙂

  2. difa dan kuma digabung ya. *digebug*

  3. Sama banget ini.. Suka liburan ke Batavia :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: