Archive for October, 2013

October 27, 2013

Infeksi

Aku pernah jadi seorang pemuda yang bodoh. Mengira cinta bisa memberiku bahagia yang amat luar biasa. Hingga aku pandir, sayang. Aku merasa kau datang dan akan menghadiahkan aku senyum setiap hari. Cinta membuatku lupa bahwa harum bunga pun memiliki umurnya.
 
Karenamu aku jadi lupa diri. Ada masa ketika cinta membuatku merasa seperti pelukis. Bagaimana palet warna tiba-tiba muncul di sudut mataku dan telunjukku merasa dirinya adalah kuas yang bisa berubah ukuran dengan sendirinya. Dan lihat, aku melukismu di langit setiap hari.
 
Karenamu aku sering lupa diri. Tak cukup jadi pelukis, aku pun sering merasa diri seorang komposer. Heran, bagaimana bisa aku membuat musik sendiri tanpa belajar musik terlebih dahulu. Entah bagaimana telinga ini memperbaiki setiap kata-katamu jadi lagu, dan selalu indah-indah saja, sayang. Dan dengarkan, aku menyanyikanmu setiap hari.
Aku dan kebodohan kecilku. Terbodohi hingga segala bahagia menemukan muaranya. Hingga aku menemukanmu dengannya pun, aku masih berusaha memaafkanmu, dan mendoktrin diriku sendiri bahwa kekhilafanmu adalah salahku, yang tidak cukup baik membalas cintamu.
 
Ayah pernah mengatakan kepadaku, bahwa cinta tidak selamanya indah. Dan kau tahu sendiri bagaimana anak lelaki dan ayahnya yang selalu bertentangan. Sampai kau pergi, aku masih merasa ayah adalah seorang pembohong, dan kepergianmu dengannya adalah sepenuhnya salahku.
 
Lihat bagaimana cinta memperlakukanku, sayang. Lihat bagaimana aku menyayat-nyayat pikiranku dengan kebencian yang muskil. Lihat bagaimana luka-luka ini bersembunyi setiap kau datang lagi dan tersenyum tanpa dosa; seakan-akan aku tidak akan membunuhmu ketika kau datang kembali meminta peluk.
 
Kau menanam luka di tubuhku, namun tak hendak menuainya sebagai kebencian. Kau menanam derita di pikiranku, dan tak mau menerima kesakitanku. Kau menanamkan pada hatiku segala ketimpangan yang cinta sembunyikan, dan tidakkah kau menyadari kini bahwa dendam adalah infeksi abadi bagi seorang pencinta yang cacat?
 
Lihat aku, hai perempuan, dan jawab pertanyaanku:
 
Bagaimana kau mencintaiku kini?
 
 
Kopi Kultur, Denpasar 2013
Entah mengapa para ikan menatapku dari bawah
October 27, 2013

Pikirkan

:vanilla

Bila kau pikir cinta mengobatimu
dari segala luka hati
pikir sekali lagi

Bila kau pikir cinta senantiasa memaafkan
segala kesalahan dan melupakan
pikir sekali lagi

Bila kau sangka cinta memberi jawaban
atas segala pertanyaan
pikir sekali lagi

Bila kau pikir cinta selalu membahagiakan
dan tak akan menyakitkan
pikir sekali lagi

Bila kau pikirkan senyumnya sepanjang hari
dan kau pikir kau telah jatuh cinta,

jangan berpikir

 

Kopi Kultur, Oktober 2013

October 11, 2013

Malam Ini, Saya Menulis Sebuah Puisi Untukmu

Pada kebahagiaanmu, kakiku meminjam sendi. Pada senyummu, wajahku meminjam cahaya. Hari ini aku dan kamu menunggu mantra-mantra titipan masa lalu menyatukan dua jadi satu. Aku dan kamu jadi kita, kaki-kaki rindu jadi cinta; gelap jadi cahaya.

Adalah malam-malam tanpa lawan bicara yang akhirnya memaksaku bercengkrama kepada kesepian, yang jadi satu dengan sendiriku. Menulis kata-kata tanpa makna, sekedar jadi teman untuk membangun keramaian.

Ingin lebih dalam, aku menyerahkan diri kepada sastra–namun kehidupan nempaknya memaksaku untuk menggali lebih dalam; makna-makna yang ia sembunyikan.

Maka aku–bersama beberapa gelas kopi–datang kepadamu, di dalam pikiranku bercengkrama atas nama sepi; tudung segala rindu, yang tahan segala uji dan menolak segala puji.

Bandara Ngurah Rai, 13 Sep 2013
Bersama beberapa gelas kopi.

 

20131011-201449.jpg20131011-201529.jpg

 

Tags: