Archive for ‘#111kata’

June 2, 2013

Asumsi

 

“Sudahkah kamu menemukan seseorang?” Lelaki itu bertanya tiba-tiba.

Sang perempuan terkejut atas pertanyaan itu, namun berusaha tidak menoleh seketika, ia menghela napasnya sebentar. Pikirannya memikirkan beberapa hal yang ingin dia suarakan. I found you.

“Sudah, tapi dia sudah punya kekasih,” jawab sang perempuan.

“Oh, sayang sekali. Berarti dia bukan aku, karena aku sedang sendiri,” timpal lelaki itu. Tawa kecil terselip di sela katanya. Dia segera menghisap rokok di tangannya, menutup kata-kata selanjutnya.

Senyum sang perempuan menyambut tawa itu, kemudian mengalihkan pandang ke arah entah.

Tanpa mereka sadari, suara retakan bergema di dada masing-masing mereka. Dua hati, patah di saat yang sama. Saling mencintai, namun saling mematahkan hati sendiri.

Tags:
November 25, 2012

Favorit

“Kira-kira Papa lebih sayang siapa ya, Kak?”
“Iya ya? Bunda memang jago masak, tapi Mamah kan lebih muda; cantik.”
Kutinggalkan percakapan anak-anakku. Mereka tidak tahu siapa yang mendengarkan di balik pintu.

*

Who do you love, dear?

Tulisan tangan Joane memang klasik, di daerah putih fotoku; tergeletak di meja kerjanya.
Kubelai rambutnya yang terhampar di punggung kursi, tempat lelahnya tertidur.
Kau terlalu banyak berpikir, Jo.” Batinku.

*

“Siapa yang paling kamu cinta diantara kami, Buntoro?” Tanya Jenny kepada laki-laki yang diapitnya bersama seorang wanita yang lebih muda darinya. Foto keluarga diatas perapian ruang tamu ini, belum lama kami buat.

Seminggu ini keluargaku, lebih sering menanyakan siapa yang paling kucintai daripada mencari mayatku.

February 13, 2012

kepada wanita yang selalu kunikmati senyumnya

Ada ribuan bintang, yang lebih indah kupandang saat terpantul di laut matamu
Ada kesejukan di pelukanmu, yang tak sanggup dihadirkan salju-salju
Ada hujan, yang lebih deras dari badai mana pun, saat rindu tidak menemukan pelukmu
hingga akhirnya, aku menemukan matamu sebagai tempat meneduhkan segala lelahku.

Bagaimana kau kulupakan?

Kau selalu nampak begitu nyaman-berselimut kenangan
tertidur di balik kelopak mataku
Jika kau ingat, sebenarnya dentum-dentum di dadamu itu
ialah ledak bola-bola atom yang kulempar dari langit matamu.

itu dulu… 

Kini gelak tawamu lebih nyaring dari gelas-gelas kaca
senyummu selengkung khatulistiwa
pipimu lebih semu daripada merahmuda
bahagiamu dekat, menggenggam erat hatimu

Ah, kau kini jadi nyonya,
salam untuk anak-anak kita, sayang

dan suamimu..

 

 

Tags:
January 16, 2012

ORANG KETIGA

“Aku rindu.”
“Bali? Tentu, pulanglah, masih banyak keindahan untuk kau lihat.”
“Tapi kau jangan sibuk saat aku datang, aku ingin menikmatinya bersama yang terindah.”

SIMPANG DEWA RUCI.
Lamunanku dibangunkan klakson mobil di belakangku.
Beginilah dia saat siang, para mobil saling menyumpahi.
Sebagai salah satu kanal menuju bandara, dia tidak seharusnya semacet ini.

TERMINAL KEDATANGAN, NGURAH RAI AIRPORT.
Dari dalam pintu terminal, bidadariku melambaikan tangan.
“Adit!”
Maya berlari kemudian memelukku.
Sejenak kami berputar di udara, lalu kuturunkan untuk melihat senyumnya.
Kangen.” bisiknya lembut, tanpa kujawab.
“Wawan!” sapaku pada lelaki yang mengiringinya, teman baikku; tunangannya.
“Sini kubantu!”
“Halah, cuma segini! Santai!” timpalnya.
Gelak tawa mengiringi percakapan kami.
Wawan, Maya dan aku; orang ketiga.

 

 

December 9, 2011

Malam ini, (mari) kita berdoa~

Berkenalanlah dengan jemariku, yang kokoh dalam genggamanmu,
yang hangat disela-sela rambutmu

Kemudian pun kau menutup mata, dan wajahku, katamu,
mulai muncul mengalahkan hitam

“Sayang..”
Kau tuntun jemariku, melewati setiap lembah di lehermu,
hingga lelandaian teduh di pundakmu

mereka yang buta,

belajar mengeja manuskrip-manuskrip yang purba di tubuhmu

Dan,
wajahmu nan dewi, lebih cantik dari drupadi,
mulai mendekat kepadaku,

Hingga mulai kudengar, nafas-nafas para binatang liar,
yang tak pula mengaku dari dadamu.
Hingga kukenali pula teluk-teluk di bibirmu,
yang melahirkan desah saat dihantam debur ciumanku.

Sayang,
Aku mulai bingung, entah ditengah jelajah tubuh,
atau entah kontur hutan asing yang kutemukan di dasar bumimu

dan ditengah ketersesatan kita, kau mulai menyebut nama Tuhan

Tags:
December 9, 2011

Bunga untuk…

“Halo, aku Eli, selamat datang di tokoku.”
“Halo Eli, John. Punya mawar putih?”
“Tentu, John, berapa?”
“Tiga, diikat.”
“Sebentar.. Bin, tolong 3 mawar putih terbaik untuk tuan ini!”
Dia kemudian mengajakku ke meja kasir.
“Tunggu disini saja. Untuk kekasihmu-kah?”
“Iya, untuk kekasihku, hari ini aku mengunjunginya.”
“Oh, siapa namanya?”
“Ryan.”

Hening sejenak.

“Oh, Ryan, dia wanita.”
“Oh, oke, maaf John aku…”
“Tidak apa, sudah biasa, namanya memang maskulin.”
Kami pun tertawa kecil.

“Dia tinggal di sekitar sini?” lanjut Eli.
Kuhela nafasku sejenak.
“Dia bersemayam di pemakaman dekat blok 4.”

Aku sudah di seberang jalan saat kudengar sayup suaranya.

“John, kau lupa kembalianmu!”

aku berbalik,
dan teriakanku, ditelan decit ban yang dipaksa berhenti.

Eli..

Tags:
December 4, 2011

Mimpi [?]

“TIDAAAK!! TIDAAAK!!!”
Nafasku menderu, banjir keringat di badanku. “Oh Tuhan, mimpi itu lagi.” batinku.

7.55 am, kuyakin weker pun urung membangunkanku setelah kuteriaki. Kemudian kutinggalkan ranjang, membasahi wajahku di wastafel, mengatur nafas.

“Selamat pagi, John!”
“Pagi, Eli! Mawar putih, ada?”
“Selalu ada untukmu, ganteng.”
Eli selalu tahu cara menumbuhkan senyum di wajahku, beruntunglah setiap pagi, aku selalu melewati toko bunganya.
“Masuklah, kubuatkan kopi..”
“Nantilah, aku harus..”
“Oke, ini mawarmu, titipkan salamku untuknya.” Dia tersenyum penuh pengertian.
“Terima kasih.” Kemudian aku bergegas menyeberang..

“John! Kau lupa kembalianmu!”
Aku hampir mencapai seberang jalan saat kulihat Eli, berusaha menyusulku, tanpa melihat mobil itu.

“TIDAAAK!! TIDAAAK!!!”
Nafasku menderu, banjir keringat di badanku. “Tuhan, mimpi itu lagi..”

October 4, 2011

Kehilangan

Lelaki itu menunduk memegangi kepalanya. Lorong IRD yang riuh, masih kalah dengan debur kesedihan di kepalanya.

3 jam yang lalu.

Brak!
Pintu IRD terbuka dengan seorang wanita diatas ranjang darurat.
“Korban kecelakaan, dok. Benturan hebat di kepala.”

1 jam yang lalu

“Bapak Rudy?”
Lelaki itu spontan bangun dari kursi ruang tunggu.
“Bagaimana istri saya, dok?”
“Sudah stabil, tapi belum sepenuhnya sadar. Begini, ada yang harus kami sampaikan segera.”

Kugigit bibirku, sepanjang karir kedokteranku, aku tak pernah suka bagian ini.
“Istri bapak mendapat benturan hebat di kepalanya. Beliau mengalami amnesia.”

Kusaksikan langit runtuh di matanya, Aku yakin sebentar lagi hujan di pipinya.

“Ada lagi.”

Dia mendongak, terkejut.

“istri anda juga kehilangan janinnya.”

October 3, 2011

Awal

2009

“Sayang, ayo!” istriku setengah berteriak.

@RudyAlams
Bye Tweeps, nganter bini shopping dulu.
Send tweet.

“Yuk, sayang.”
Ujarku setengah bercanda. Wajah istriku masam, aku tahu dia tidak suka aku terlalu larut di timeline. Sejak mengenal twitter, aku jadi lupa waktu.

“Sayang, maaf ya..” ujarnya. “Aku bukan mau terlalu ngatur. Tapi kamu terlalu serius sama timeline.”
“Iya, maafkan aku sayang..”
“Aku ada kabar..”

Cling!

Spontan, tanganku bergerak cepat meraih blackberry di kantongku. Twitter, open, mention.

RT @yougoklik: Selamat anda terpilih sebagai…

“SAYANG, AWAS !!”

Gelap

Kukeluarkan tubuhnya yang penuh darah dari mobil kami. “Sayang?! Sayang?!” kutepuk-tepuk pipinya, mengguncang badannya.

“Si..siapa..kamu?” bisiknya lirih.

Kupeluk tubuhnya erat-erat, tangisku bersembunyi dibalik raungan sirene di kejauhan.

October 2, 2011

Perkenalan Kesekian

“Ah, sudah bangun. Selamat pagi”
Seorang Pria menyapaku sambil mengganti lampu di ruangan penuh kursi.
“Siapa kamu?” Lalu pandanganku kabur; menghitam.

Brak.

Saat aku terbangun, kutemukan sebuah surat terbuka di tepi ranjang.

Selamat Pagi Cantik.
Maaf, Untuk pagi ini aku harus menulis surat ini untukmu karena pagi ini ada meeting penting.
Kamu adalah Dewi Astuty. Menderita Amnesia Anterograde sejak 3 bulan yang lalu. Sebuah penyakit amnesia jangka pendek, karena kecelakaan mobil yang kita alami saat itu.
Bila (bisa) kamu ingat koki, tukang ledeng, tukang kebun dan tukang listrik yang menyapamu tiap pagi-pagi lalu itu, adalah Rudy Alamsyah, suamimu.

PS:  Teh tawar dan roti mentega kesukaanmu ada di meja makan, aku mencintaimu.

Rudy