Archive for ‘seperti puisi’

October 11, 2013

Malam Ini, Saya Menulis Sebuah Puisi Untukmu

Pada kebahagiaanmu, kakiku meminjam sendi. Pada senyummu, wajahku meminjam cahaya. Hari ini aku dan kamu menunggu mantra-mantra titipan masa lalu menyatukan dua jadi satu. Aku dan kamu jadi kita, kaki-kaki rindu jadi cinta; gelap jadi cahaya.

Adalah malam-malam tanpa lawan bicara yang akhirnya memaksaku bercengkrama kepada kesepian, yang jadi satu dengan sendiriku. Menulis kata-kata tanpa makna, sekedar jadi teman untuk membangun keramaian.

Ingin lebih dalam, aku menyerahkan diri kepada sastra–namun kehidupan nempaknya memaksaku untuk menggali lebih dalam; makna-makna yang ia sembunyikan.

Maka aku–bersama beberapa gelas kopi–datang kepadamu, di dalam pikiranku bercengkrama atas nama sepi; tudung segala rindu, yang tahan segala uji dan menolak segala puji.

Bandara Ngurah Rai, 13 Sep 2013
Bersama beberapa gelas kopi.

 

20131011-201449.jpg20131011-201529.jpg

 

Advertisements
Tags:
September 30, 2013

kepada yang akan pergi

awan hitam merendah
mengirim angin lembut
membelai padi-padi
dan wajahku yang pasi

pernahkah kau merasa
bahwa perpisahan ini
tidak direstui alam?

sementara, kebersamaan kita
tak direstui manusia kah?

bagaimana sang segala bisa mengaturnya?
bagaimana mungkin ia tidak yakin?
adakah ia bimbang dalam memutuskan?
apakah salah bila aku meragukannya?

bukan

ternyata ini bukan tentang
keraguan terhadapnya
ini keraguanku, pada keyakinanku
tentang rencananya

hati ini sedang mencoba meresapinya
pikiran ini sedang belajar memahaminya
bahwa perpisahan ini ialah pintu
untuk perjalananmu

 

kopi kultur, 2013
segelas kopi dan segelas air putih
saling berpandangan

Tags:
May 13, 2013

Kepulangan Burung-Burung Madu

Nona Tuhan pernah berbisik kepadaku;
“Tuan, Bumi telah disiapkan, sudikah engkau turun dan melihat-lihat?”
Dia menarik kepalanya dengan senyum
yang masih tertinggal di dalam pikiran

Aku mengangguk, senyumnya makin ranum

Dua hari lalu, dahi kerutnya mengatakan kepadaku;
“Hanya seumur itu? Bagaimana bila ditambah?”
Kami saling bertatapan beberapa saat dalam diam
Kedua mata masing-masing kami bercengkrama

Aku menggeleng, dahinya makin kerut

Malam ini aku tiba di Bumi,
masih tiga ribu detik lagi menuju sunyi
Selama beberapa masa merasa terlalu gelap,
maka kubakar api di sudut rindu
kunamakan ia timur
rembulan masih mengambang di seberangnya
dia terlalu sendirian, seperti aku di laut tandus
maka kusentil beberapa kerikil, terbakar di atmosfir
kemudian jadi benda langit, kutiup setiap hari
sinarnya ribuan tahun, lalu mati
namun tetap terang dari sini

Masih tiga ribu detik lagi menuju sunyi
aku lupa menggerakkan waktu
malam ini terlalu dingin dan sepi
maka kupanggil petualang dari jauh
mereka akan tiba sebentar lagi
kepak anginnya telah sampai lebih dulu
paruh-paruh mereka akan sampai
setelah api tadi menghangatkan pagi

Dan menunggu tiga ribu detik ini habis
aku namai satu per satu apa yang kulihat
hingga aku bosan dan meniup api di timur
detik-detik terbakar lebih cepat;
langit berdenyar

“Apa yang kau lakukan?”
Nona Tuhan di depanku terheran-heran
Aku menariknya, ke sampingku
menghadapkan kami ke timur

Api meninggi,
suara kepak para petualang mendekat
Nona Tuhan menangis tipis-tipis
air matanya ditangkap dedaunan

Aku menamakannya pagi

Dps2013

December 15, 2012

Hari Dimana Cinta Kita Dimakamkan.

1
Senja yang abu, matahari yang murung
bumi membisu membungkam burung-burung

Senja abu-abu, ribuan ombak bertarung
awan dibalut haru, deru angin mulai bingung

hari dimana cinta kita dimakamkan

Telah kusiapkan sepoci kopi dan seikat mawar
menunggu laut menelan senja
menunggu langit meminum darah-darahnya
menyisakan detak-detak tak berangin

pernah kita menabur asa diatas musim
pernah kita berdekapan atas nama beda
kemudian saling bekap atas nama cinta
menitipkan kata pada masing-masing dada

2
janji-janji, memohon untuk ditepati 

Kau akan mengingat aku
sebagai dandelion yang kau cabut

kau tiup hingga menyatu angin
kemudian menangisi kepergian

hingga lelah kutelusuri, mencari
muara dari segala kata-katamu
yang kau rangkai hingga puisi
demi menghapus segala pilu hati

3
demi segala yang pernah tinggal, hingga terpaksa tanggal

kemarin aku memungut bintang
yang berbaring di pinggir samudera

siapa yang mengirim pesan ini?
diakah matamu yang haus cahaya?

janganlah lelah menungguku
bukan karena aku tak mau

hanya saja,
malaikat tak kunjung tiba

dps2012

October 21, 2012

Kelak, Suatu Pagi, dari Matamu Kupetik Matahari

II.
Tubuhmu daun
lidahku embun
dan kita,
pagi yang mengalun

Bibirmu bumi
mataku mendung
dan kita,
siang yang kehujanan

Dadamu lautan
ciumanku matahari
dan kita,
senja yang berkumandang

Matamu langit
senyumku bintang
dan kita,
malam yang benerang

(bersambung..)

dps2012

September 30, 2012

Sehari yang tidak berlalu di pikiranku

:Maria

Pagi itu di tepi pantai
Seorang anak menandai detik demi detik pada pasir
dan ombak membantunya menandai menit
dengan menyapunya
Hilang

Siang itu di tengah lautan
Ombak-ombak bercengkrama, bermain air, menawa-tawa
tertambat para sampan menyaksikan
kebebasan dalam angan-angan
Lepas

Senja itu di atas batu karang
sepasang kekasih berciuman mesra dalam siluet
Perlahan menghilang
lalu saling melepaskan
Kelam

Malam itu seorang lelaki merenung
menulis takdir bersama sepasang lentera
satu menghangatkan ruangan
satu membakar kenangan
Rapuh

Pagi itu di tepi pantai
Seorang wanita menandai detik demi detik pada pasir
dan ombak membantunya pulang
Hilang

Patutkah segalanya berhenti?

Banjar, 30 Sep 2012

September 26, 2012

Kelak, Suatu Pagi, dari Matamu Kupetik Matahari

I.

tuhan, aku kecanduan
hatiku luka
bibirnya cuka
dan aku menikmati ciuman

tuhan, ini kehampaan
ibarat doa
tanpanya dosa
dan aku menunggu kematian

 

 

 

(bersambung..)

dps2012

August 29, 2012

Wanita Pecandu Luka (2)

 

betapa,

luka-luka menenun segala senyumnya
dan pada duka, ia muarakan air mata

barangkali dia tidak percaya kata-kata
karena kata-kata sering mengingkarinya

menciptakan jarak, untuk  ditangisi sendiri
mengobarkan cemburu, yang menghanguskan sendiri
menciptakan rindu, untuk diratapi sendiri
menoreh luka pada tubuhnya, yang lalu disesali

bahwa rasa sakit, baginya adalah candu
ketiada-bahagiaan, menyenangkan bawah sadarnya
dan ketika kesendirian mengutuknya,
dia mulai menyukainya

barangkali dia menyukai dusta
karena dusta menentramkan ketidakpastian

seperti dia menyukai hujan
karena mereka menderaskan kesedihan
membawa kembali cerita-cerita
tenggelam dalam air mata

seperti dia menikmati tembakau
ketika bara membakarnya
menikmati setiap hembus asap
dan nikotin memangkas umur

dia, wanita pecandu luka
dilupakan dunia yang ia lipur makian
ditinggalkan asa yang dia tebas sendiri

 

dps 2012

tulisan ini, saya lanjutkan dari tulisan
Ruth Dian Kurniasari – Kepada Wanita yang Menyandu Luka

Tags:
August 9, 2012

Patung

Cin ta
Ak u
Mar
i
saling
K amu
me nya
yang i

Kupungut kepingan kata-kata
yang tadi kulemparkan
yang mental pada kepalamu,
yang kemudian jatuh
hancur berserakan

July 30, 2012

Karam (1)

Ada kala aku merasa seperti matahari, dan menganggap kamu bulan yang kuhidupi-namun terpisahkan sepanjang pagi dan malam. Jarak yang abadi.

Seperti jarak diantara kita, yang sedemikian dekat, lebih tipis dari sekat namun amat jauh dari segala. Terutama setelah kehadirannya, jarak mencapai titik terjauhnya. Ada kala kita berpelukan, dan pundakku jadi segala kolam yang menampung tangisan. Tangisanmu, air mata yang mengalir karena duka yang ditorehkannya–ialah duri-duri mawar dari pelukanmu yang menancap di punggungku.

“Terima kasih,” ujarmu lirih. Anggukanku lebih dari sekedar jawaban. Tidak perlu kata-kata yang banyak untukmu. Pelukan sudah jadi sebuah tindakan penyelamatan bagi seluruh dukamu. Aku tahu kamu mengerti apa yang aku akan selalu sediakan untukmu. Kamu tahu aku mengerti hanya inilah yang bisa kusediakan untukmu. Tidak ada saling meminta yang lebih dari ini. Mengertimu hanya untuk pribadi, sama sekali bukan untuk berbagi.

Sesungguhnya aku tak pernah bermaksud membuatmu menangis. Namun begitulah, tidak selamanya yang kumaksudkan baik, adalah benar bagimu. Kita tidak seharusnya saling mengerti. Tapi tidak juga harus menyakiti. Atau mungkin sebaiknya kita tak pernah bertemu.

Aku bahagia bila kamu bahagia. Meski bahagiamu karenaku lebih membahagiakanku daripada bahagiamu karenanya. Pernah kulihat senyummu yang penuh cinta–cinta kepadanya–aku mati hati, terkubur di liang sepi.

Ingin aku katakan segala isi pikiranku kepadamu-bukan perasaanku-tentang kamu dan dia. Bahwa dia yang sedemikian kamu cintai ialah dia yang senantiasa menyakiti. Hubungan yang sedemikian susah kamu perjuangkan, ialah hubungan yang memiliki segala alasan untuk kamu lepaskan. Namun aku tenggelam dalam ketakutanku kehilanganmu.

Sayang, aku bukan kekasihmu. Tapi beginilah aku, setia menunggumu, setia hadir dalam setiap kesedihanmu. Setia menampung setiap tetes air matamu.

Kuingatkan sekali lagi sayang, hatiku memiliki pintu yang senantiasa menunggu jemarimu mengetuk. Sebut namamu yang merupakan kunci agar pintu ini terbuka dan silahkan masuki. Namun jika terlalu lama, kamu tak pula datang mengetuk, pintu ini akan kukunci selamanya. Menutup pintu dan telinga, meninggalkanmu mengetuk di depannya.

Ternyata cara paling hebat melukaimu, ialah mengabaikanmu.

Selamat karam, kekasihku—di laut malam.