July 19, 2013

Seperti Ini Aku Mengembalikan Kita

:amalia

Kadang kita diperkenalkan duka, Amalia; agar kita bisa memaknai bahagia.

Maka ikutlah denganku berjalan sejenak, menyusuri kota kecil yang dulu kita bangun di dalam dada sebelah kiri.

Pertama, mari menelusuri kembali reruntuhan yang terlalap api. Retakan-retakan menggunung yang dulu pernah utuh. Sisa-sisa gedung yang tadinya penuh. Lintasi gang-gang kecil yang patah, tempat sepasang cinta melempar-lempar gema. Dengar baik-baik, mereka masih memantulinya. Meski sayup-sayup berjuang mengisi ruang. Terbang di udara sebagai rintih-rintih sekarat dengan sayap-sayapnya yang rapuh.

Kedua, mari lihat bagaimana langit hitam kini. Bagaimana biru tempat kita biasa menggambar pelangi dulu, kini jadi lembar hitam serupa abu yang ditolak api. Kosong? Mari mengisinya kembali. Namun biarkan aku memandang matamu sejenak, aku ingin mencontek dunia kecil di dalamnya. Karena matamu adalah cetak biru tata surya, yang dititipkan ayah jikalau dunia runtuh, namun kita masih berpegangan; saling menyelamatkan.

Terakhir, ikutlah aku kembali ke dalam rumah kecil kita. Lihatlah di balik reruntuhan temboknya masih terpancang tiang-tiang; (lihatlah) janji-janji itu belum tumbang. Jam dinding yang kehilangan jarumnya, serta lukisan taman yang tanpa matahari biarlah jadi bekas luka yang mengingatkan kita, bagaimana kiamat pernah singgah.

“Cinta, itulah bumi bagi kita, Aditya. Tempat segala tumbuh dan hidup. Digenapi takdir, disepakati langit,” katamu, yang masih aku peluk hingga kini di dalam ingatan. Marilah membangun kembali segalanya, hingga kita dapatkan kembali sejuknya berpeluk kata-kata. Hingga waktu jadi beku pada puisi-puisi dan kopi bisu pukul lima pagi.

 

 

dps2013
kopikultur dan kamar tidur

Advertisements
June 29, 2013

Rapuh Sejak di Dalam Pikiran

:maria

/1/
Kata-kata yang menghancurkanku berkeping-keping. Kata-kata pula yang merekatkanku kembali. Namun begitu, tidak sepenuhnya utuh. Tidak akan pernah kembali utuh.

/2/
Kita mengikat benang di pergelangan masing-masing, karena kita takut akan perpisahan. Lalu kau menggigit jarimu, mewarnai benangku dengan darahmu: Ini aku, yang paling dekat ke nadimu, sayang–begitu katamu. Aku pun mengambil kalimat itu, lalu menyayat genggamanku dengan tajamnya. Kugenggam benangmu hingga menyerap darah dari genggamanku. Aku tidak berkata apa-apa. Karena kata-kataku telah habis, jadi satu pikiran di pergelangan tanganmu.

Aku rela mati di bibirmu, sayang.

/3/
Cium aku kuat-kuat. Tiada esok yang akan menyambut kita, karena esok telah tiba hari ini. Masuklah ke dalam dadaku, bersama hujan yang tak berhenti hingga kita menangis kedinginan, meratapi kehilangan masing-masing: akan sebuah dosa, yang kita samarkan dalam doa. Bernafaslah dengan paru-paruku, karena paru-parumu yang hancur karena asap rokok. Makanlah dengan lidahku, karena lidahmu telah mati rasa oleh kopi pagi. Kugantikan setiap nadimu yang cacat. Kujadikan kau manusia yang baru.

/4/
Cium aku kuat-kuat, karena esok telah tiba hari ini.

dps2013
bersama dua gelas bir

June 18, 2013

Yang Tidak Pernah Cukup

:na

Aku ingin sekali dipulangkan waktu ke pelukanmu, namun selama ini, aku dan waktu selalu berselisih. Bukan perihal jarak, rindu atau hal-hal yang menyebabkan aku tak mampu merengkuhmu. Namun bagaimana waktu selalu mampu menghadirkan kesepian yang entah–hingga aku mampu mendengar bagaimana detik-detik terjatuh, bagaimana gir-gir di dalam jam tangan bergerak, bagaimana udara mengalir dari paru-paru menuju kepalaku; membentuk kata-kata (dan mengalir kembali menuju jemari, meniup pula aliran darah untuk mengetikkan kata-kata ini).

Seandainya waktu hendak menghadiahkan pertemuan sebentar lagi, aku ingin beberapa saat menghapal setiap puisi yang kutulis ketika menghabiskannya. Lalu biar waktu mengalah sejenak, ketika aku menjarahkan mereka pada bibirmu.

 

dps2013
ketika kesulitan kopi

June 17, 2013

BBM dan Senandung Nasi

:na

Jika boleh aku dengungkan (dan tentu saja menurutku boleh), aku ingin melawan segala yang engkau khawatirkan tentang kenaikan BBM dan segala dampak setelahnya. Karena aku, ialah penangggung bahagiamu–yang akan menjamin nasimu (selain merawat senyummu dengan puisi).

Sayang, jangan menangis. Beras mungkin akan semakin mahal (demikian pun dengan senyum beberapa orang), namun kebahagiaan akan muncul pada sudut-sudut sempit dan ruang sederhana. Seperti nanti, ketika aku akan menukar setengah nasiku dengan setengah kuning telurmu.

(atau, bagaimana aku menyimak ide bodohmu: mengisi 2 hari terakhir setiap minggu dengan makan nasi berkecap dan mengurangi jalan-jalan keliling taman)

Sayang, sudahlah.

BBM boleh naik lagi, namun kita tahu; cinta macam kita tak bisa dibeli.

 

dps2013
bersama segelas hot chocolate

June 10, 2013

Selamat Malam, Pak Sapardi

I.

Selamat Malam, Pak Sapardi. 

Dengan tulisan ini saya ingin mengabarkan bahwa di negara kita banyak sekali orang yang ingin menjadi seperti Bapak. Beberapa menuliskan tentang keberadaan pedih dalam tetesan Hujan di setiap Bulan Juni. Beberapa mengerami sunyi yang dipantulkan riak genangan hujan setiap sore, untuk dituliskan malam harinya sebagai kesedihan yang agung.

Sampai saat ini, tetesan-tetesan tangis yang yang selama ini dipuja kaum itu, telah saya dulang menjadi beberapa kata. Namun beginilah, Pak. Kesedihan yang dihantarkan rintik Hujan Bulan Juni, adalah kesedihan yang dipuja banyak mereka setelah Bapak. Mereka yang tidak menyadari, kesedihan Hujan bulan setelahnya–mau pun kekeringan di musim lainnya; ada yang lebih menyakitkan.

 

 

dps2013

June 2, 2013

Asumsi

 

“Sudahkah kamu menemukan seseorang?” Lelaki itu bertanya tiba-tiba.

Sang perempuan terkejut atas pertanyaan itu, namun berusaha tidak menoleh seketika, ia menghela napasnya sebentar. Pikirannya memikirkan beberapa hal yang ingin dia suarakan. I found you.

“Sudah, tapi dia sudah punya kekasih,” jawab sang perempuan.

“Oh, sayang sekali. Berarti dia bukan aku, karena aku sedang sendiri,” timpal lelaki itu. Tawa kecil terselip di sela katanya. Dia segera menghisap rokok di tangannya, menutup kata-kata selanjutnya.

Senyum sang perempuan menyambut tawa itu, kemudian mengalihkan pandang ke arah entah.

Tanpa mereka sadari, suara retakan bergema di dada masing-masing mereka. Dua hati, patah di saat yang sama. Saling mencintai, namun saling mematahkan hati sendiri.

Tags:
May 13, 2013

Kepulangan Burung-Burung Madu

Nona Tuhan pernah berbisik kepadaku;
“Tuan, Bumi telah disiapkan, sudikah engkau turun dan melihat-lihat?”
Dia menarik kepalanya dengan senyum
yang masih tertinggal di dalam pikiran

Aku mengangguk, senyumnya makin ranum

Dua hari lalu, dahi kerutnya mengatakan kepadaku;
“Hanya seumur itu? Bagaimana bila ditambah?”
Kami saling bertatapan beberapa saat dalam diam
Kedua mata masing-masing kami bercengkrama

Aku menggeleng, dahinya makin kerut

Malam ini aku tiba di Bumi,
masih tiga ribu detik lagi menuju sunyi
Selama beberapa masa merasa terlalu gelap,
maka kubakar api di sudut rindu
kunamakan ia timur
rembulan masih mengambang di seberangnya
dia terlalu sendirian, seperti aku di laut tandus
maka kusentil beberapa kerikil, terbakar di atmosfir
kemudian jadi benda langit, kutiup setiap hari
sinarnya ribuan tahun, lalu mati
namun tetap terang dari sini

Masih tiga ribu detik lagi menuju sunyi
aku lupa menggerakkan waktu
malam ini terlalu dingin dan sepi
maka kupanggil petualang dari jauh
mereka akan tiba sebentar lagi
kepak anginnya telah sampai lebih dulu
paruh-paruh mereka akan sampai
setelah api tadi menghangatkan pagi

Dan menunggu tiga ribu detik ini habis
aku namai satu per satu apa yang kulihat
hingga aku bosan dan meniup api di timur
detik-detik terbakar lebih cepat;
langit berdenyar

“Apa yang kau lakukan?”
Nona Tuhan di depanku terheran-heran
Aku menariknya, ke sampingku
menghadapkan kami ke timur

Api meninggi,
suara kepak para petualang mendekat
Nona Tuhan menangis tipis-tipis
air matanya ditangkap dedaunan

Aku menamakannya pagi

Dps2013

May 4, 2013

Tugas Luka

I. Luka itu Ada

Luka yang diberikan seseorang untukmu,
mungkin adalah luka yang akan mengingatkanmu
bahwa apa yang kau rasakan adalah nyata
Sebuah rasa yang nyata; rasa sakit itu nyata

Luka itu akan membawamu kembali ke dunia
setelah seringan debu ditiupkan cinta ke langit

Luka itu akan membuka matamu
setelah beberapa saat ditutupi cinta

Luka itu indah, sayang
Luka itu ada
Luka itu nyata
di dalam hatimu

Mengapa harus ada luka dalam cinta?
Karena tanpa luka, cinta kehilangan kekuatan
–kekuatannya memaafkan

 

ubd2013

April 22, 2013

Pecandu Rasa

Pertama,
Ia mengutus awan. Menutup tirai langit dan menghalangi sinar matahari. Demikian, aku hanya bisa tersenyum kecut. Bahkan di bawah pohon besar ini, aku tidak merasa aman.

Kedua,
Ia mengutus hujan. Menyampaikan salamnya yang lembab dan basah kepada tanah. Lalu mereka bercengkrama lewat suara-suara yang derak sepanjang siang yang tidak terlihat. Matahari sembunyi. Mendengarkan bagaimana rindu disampaikan dari balik tirai. Sesekali dia menyibak tirai–mengintip–lalu menyuarakan guntur karena terlalu kaget dengan keintiman hujan.

Ketiga,
Ia membuka tirai, melenggang tenang. Menikmati aroma yang terbang dari pori-pori tanah. Ia adalah seorang pecandu. Ia adalah seorang penghibur. Ia bukan siapa-siapa. Ia ada, dan tiada.

Keempat,
Ia memerintahkan seorang penyair, menulis manuskrip hujan.

April 20, 2013

Di Tengah Perjalanan

Lihat-
Rindu mengembun di lensa kaca mataku
dan demikianlah sebuah nama meniupkan kesedihan dengan sederhana
Namamu
Pilar-pilar tubuhmu
Bilah-bilah nafasmu
Binar-binar suaramu
Yang tersepuh di dalam kalbuku

Yang senantiasa nampak meski pertualangan membawaku jauh
hingga nanti, rentangan tanganmu untukku jadi sambutan kepulangan

Sayang, puisi sesungguhnya terlalu rimbun untuk jadi tempat berteduh
Tiada siang yang benar-benar hangat, tiada malam yang benar-benar sepi
Ketiadaanmu membuat siang mengigil sementara,
rindu dan bayangmu senantiasa membuat malam sedemikian ramai

Malam ini-

Di kamar ini, aku, dibisiki para binatang malam untuk tinggal
Kemudian kutulis puisi-puisi kecil yang tak pernah mampu mereka rebut dariku
Sebab setiap kertas ini ialah kebun bunga, yang kelak akan kulipat
jadi lingkaran sajak yang melengkungkan senyum di wajahmu

Oh, tangis-

Bahwa kau sesungguhnya tetesan puisi berbalut air mata
Dan aku melihat kesepian sebagai hal-hal yang patut dirayakan
Sebagai hal-hal yang ingin dihadiahkan
dengan mengenangmu, misalnya

Aku memujamu, sayangku-

Di depanmu, sayang; lutut ini rela mencium bumi lebih lama dari sepatutnya
Di hadapanmu, kata-kata senantiasa berubah iya bagi setiap pinta
Aku ingin menciummu seperti matahari kepada lautan cakrawala
–perlahan, intim dan basah

dps2013