Posts tagged ‘#belajar’

September 19, 2012

Tiga

Sehari lalu, dia masih di sini. Menabur tawa-tawa kecil yang senantiasa lupa dia simpan. Hingga di kemudian hari, kami kehilangan mereka hingga ke akar-akarnya. Alasan. Akar yang menopang. Hilang yang menebang.

Hari ini dia pergi. Waktu terlalu deras. Seakan terburu mencari muara. Siapa yang merindukan ombak? Aku tidak. Aku membutuhkan dia. Aku akan melacurkan kepalaku. Memacu lidahku, memecut otakku. Aku harus punya kata-kata, agar diam tidak keburu hadir. Aku membenci diam, karena diam hanya akan menciptakan jarak. Semesta melebar olehnya. Semakin diam, semakin abai. Semakin lama, semakin mendekati usai.

Dia mengusap-usap kepalanya. Entah apa yang tersisa di sana. Dia tidak tahu, aku pun tidak. Meski demikian, dia harus menemukannya, sesuatu yang dia pikir cinta. Semestinya tersimpan rapi di sebuah almari, terbungkus kenangan. Dia ingin menemukannya, untuk dibukanya kembali, lalu kami nikmati bersama. Buah kesukaan kami. Buah yang pernah membuang Adam dan Hawa ke bumi, yang kemudian menghasilkan kami. Namun sejauh dia meraba, yang terasa hanya duka. Tenggelam dalam hitam, bukan yang seharusnya.

Sehari lalu, dia masih di sini. Masih memberi kehangatan yang semestinya, tanpa banyak bicara. Tiada yang lebih dia minta dari pelukan yang erat di atas ranjang. Tiada ciuman yang dia minta, tak pula dia curi seperti biasa. Kali ini aku yang memberinya. Akulah yang merindukan bibirnya. Bibirkulah yang merindukan lidahnya. Tubuhkulah yang menginginkan dekapnya. Cinta itu, aku yang menagihnya.

Sayang. Aku sungguh sayang padanya. Dia mengetuk pintuku dengan lembut. Sayang terbuka dengan rela, tanpa paksa. Sayang. Aku terlanjur sayang. Sayang. Kuberikan dia sayang, maka kemudian menyusul segala. Mereka sebut itu cinta. Meski membatasi takaran cicipan untuk manusia.

Kami menyambut pagi dengan keringat yang telah bercampur pada tubuh kami masing-masing. Dia menghadiahi aku senyuman, aku menghadiahi dia debar-debar rentan. Cukup adil. Aku tidak terlalu membutuhkan orgasme itu. Puncak itu, bisa aku daki sendiri. Tapi aku hanya mau dia, mendiktekan aku mantra-mantra yang kemudian kurapal disela-sela nama tuhan.

Bapa. 

Hari ini dia pergi. Matahari ikut menyertainya, aku menggigil lagi. Lelaki itu telah menjemputnya, mengantarnya menuju pagi yang lain. Lelaki itu datang tiba-tiba. Tidak mengetuk, tidak pula bersalam. Lelaki itu tahu. Lelaki itu hanya membuka pintu, kemudian menunggu setengah detik untuk mengenali, yang mana yang berteriak kaget. Yang mana bukan tubuh istrinya. Senjata di tangannya telah siap diletupkan.

Dor. Dor. Dor.

Advertisements
Tags: ,
December 23, 2011

Dalam Kerapuhanku, Aku Menunggu Kauhancurkan~

I. RINDU

Selalu kamu adalah utaraku,
dan rindu ialah jarum kompas yang senantiasa mengarah kesana
Karena tiada yang sehangat hatimu, dimana ingin kurumahkan segala rindu

Dan akan selalu ada namamu, disetiap doa-doa yang menutup mata malamku
seperti harapan-harapan yang kuterbangkan ke langit hitam
agar Sang Hyang Widhi mengamininya dengan jatuhan bintang

Kemudian, kau akan jadikan aku yang menumbuhkan kebun bunga di dadamu,
dan memayunginya dari hujan kecil; dari pelupuk matamu
Karena di mataku, matamu adalah peneduh rindu yang rapuh
Dan kehadiranmu disana, selaksa penemuan Adam akan pagi, pertama kali

Inilah aku,
Sesederhana rinduku, hanya inginkan hadirmu di dalam pikiranku
sebagai peredam keinginan untuk memaksakan temu
dan kata-katamu, ialah pelengkap segala rindu
dimana malam-malam sepi tanpamu digenapkan

II. JAUH 

Meskipun sesekali, batinku terganggu
oleh kehadiran namanya dalam balut suaramu
tiada pernah hati ini lelah, memeluk cinta untukmu

Namun mengapa aku, jadi satu-satunya yang tidak bisa memintamu?
Sedang kau, selalu tahu bagaimana menaklukkanku.

Sayang, berbahagialah,
berpura-puralah tidak peduli kesakitanku
agar aku makin ikhlas melepasmu

Agar kau mengerti nanti suatu hari
meski kau merentangkan peluk untukku
tiada tempat untukku bersandar

“Kenapa kau masih mencintaiku?”
“Karena tidak mencintaimu melumpuhkan nafasku.”

Kuhargai kebahagiaanmu,
dengan cara tidak mengganggunya

Meski pada pertemuan kita nanti, matamu mungkin berbinar-binar
dan di dadaku ini, kembang api berbingar-bingar

Dan jangan tanya tentang musim pada bulu-bulu mataku.
Mereka hanya mengenal satu sejak pergimu, hujan. – @ama_achmad

III. HANCUR

Ini aku, di liang kuburku berserakan
memunguti repih-repih kecil diriku yang terpisahkan
debur makianmu yang menghancurkan
kemudian disusul dengan sebuah kepergian

Hatiku selalu menanyakan perihal kepulanganmu padaku, mungkin dia kesepian
Dan saat kau tak kunjung kembali, aku selalu mengira-ngira kau lupa jalan pulang
Hatiku menunggu, bertahan dalam kerapuhan, diterjang ribuan badai rindu usang

Seandainya kau mengerti, sayang
Diabaikan, adalah perasaan paling mematikan keyakinan
dan pengabaian, adalah jarak terpanjang semesta

Suatu hari, setiap manusia akan dihadapkan pada sebuah dilema besar:
merelakan orang yang dicintainya, demi melanjutkan hidupnya sendiri
dan inilah aku, yang berusaha melepasmu, demi kebahagiaan untukmu

Aku semestinya ingat bahwa aku harus melupakan segala ingatanku tentang kamu
Namun kita tetap bersama, dan menikmati hitungan mundur hingga perpisahan tiba

dan ketika kutemukan namanya di matamu
tak lagi kutemukan tempat untukku berteduh
Aku, cinta sejati yang tak kau perlu
Aku, cinta tulus yang tak kau mau

Aku, ingin menjadikan selamanya lebih dari sekedar kata-kata
namun doamu bukan untuk berakhir di pelukanku
maka jadilah hujan di mataku, hanya untuk menangisimu
yang hanya menangisi ketidak berdayaanmu mengejarnya

Maka inilah aku, di palung nadirku yang paling; tenggelam
oleh sisa-sisa air mataku yang terlalu debur untuk kulawan