Posts tagged ‘duet’

January 21, 2012

Mengabadikan Kita~

selamat kehilangan pagi, amalia
selamat melipat mimpi, aditya
disini matahari sudah tinggi, amalia
dan aku memilih tetap terjaga, karena mimpi tak indah lagi tanpamu di dalamnya.

pun aku, aditya, meski fajar masih malu-malu
selimut mimpi sudah kulipat, sebab tanpamu tak ada hangat disini–di hati.

yang mencuri hangat dari hatimu, juga menghadirkan ngilu pada tulang-tulangku
amalia, aku menyerah, tanpamu aku lemah.

langit sudah menyusun rencana
menghantar debar yang sama, di serambi jantungku dan jantungmu, sebuah cinta
maka bertahanlah, aditya

akan kutunggu, amalia
segarkanlah teluk-teluk kering di dadaku
tenggelamkan dalam pelukan; atau debur-debur ciuman.

pun aku, aditya
ingin rebah di dada kirimu, merasakan lekuk lenganmu memelukku
mendengar degubmu mengeja namaku

maka rebahlah, amalia, jangan bicara lagi
biarlah malam ini jadi sunyi, dan yang terjadi; hanya menyatunya dua hati.

biarlah malam menyaksi, di dadamu aku rebah, di hatimu cinta kuletakkan, aditya
tak ada kata, hanya degub saling mengeja

maka biarkan sunyi menyaksi, amalia
saat cinta melahirkan getar, pada dada kita yang bersatu debar; hingga gelap berganti fajar.

hingga fajar, hingga senja, hingga semesta bersepakat
bahwa kita adalah sebenar-benarnya cinta, aditya

hingga umur bertemu temaram dalam senja, aku percaya, amalia
hatiku telah menemukan utaranya

hingga renta usia, hingga waktu menguzur, aku percaya, aditya
hatiku, telah menemu rumahnya; kamu

maka menggenggamlah dalam jemariku, berpeluklah dengan kata-kataku
lelahlah bersama perjalananku dan lelaplah dalam malamku, amalia

di jemarimu aku mengenggam, di kata-katamu aku berpeluk
di segalamu, aku memilih jatuh
seperti kini, selalu dan nanti, aditya

dan menutup umur dalam pelukanmu, mengabadikan kebahagianku, amalia

menutup mata dalam dekapmu, aditya, mengekalkan cinta–mengabadikan kita

maka tibalah saatnya aku menutup mata, amalia
meninggalkanmu dalam doa, yang kukirim kepadaNya, sedepa nafas lalu
untuk kita

Timeline, 20 Januari 2012
@commaditya dan @ama_ahmad
semoga berkenan

Tags:
January 18, 2012

Dalam Siang Menuju Malam

selamat menghangatkan siang, amalia

selamat  meneduhkan terik, aditya

ah, disini hujan, amalia
hunjamnya mungkin akan bergaung sepanjang siang
seperti jatuhku yang mungkin akan bergema sepanjang jaman

dan di sini terik; matahari memakai jubah keemasan
mungkin senja kilaunya redup,
menyisa semburat jingga di sudut langit- rindu, aditya

dan hujan makin deras disini
kira-kira apakah yang dihempas langit kepada bumi;
sedih atau bahagia, amalia?

hujan itu lagu langit
liriknya adalah rintik,
sebuah keriangan yang disambut ilalang dengan tarian, aditya

aku pun mendengarnya, amalia
sesaat tempo mereka melambat ala ritarnando
lagunya jadi begitu syahdu, melipur lara lelahku

dan aku berseru pada langit seusai hujan
datanglah sebagai angin, aditya,
sebagai sepoi yang menenangkan

tentu, amalia, aku pun ingin hadir sebagai angin
membelai bilah-bilah pikiranmu yang indah,
meneduhkan rindumu yang resah

malam ini akan kubiarkan jendela terbuka, aditya
agar kesiuhmu jatuh di keningku–singgah di ruang pejamku

maka aku akan singgah di mimpimu, amalia
mungkin hanya figuran sejenak, namun kuharap cukup riak menjejak.

menetaplah hingga fajar rekah di ufuk
mungkin di ranting-ranting cahaya,
ada harapan yang bisa kita petik, aditya

fajar akan selalu jadi harapan untuk kita, amalia, yang akan jadi energi
seperti yang dibisikkan embun kepada daun; yang membuatnya senantiasa hijau berseri.

dan kemudian, kami saling mengucap selamat malam,
mengiringi janji akan beberapa temu yang kami impikan

 

 

tulisan di atas adalah hasil berbalas twit
antara saya (@commaditya) dengan amalia (@ama_ahmad)
yang saya rangkum dan tambahkan beberapa kata,
semoga berkenan.

 

 

Tags: ,