Posts tagged ‘#fiksi’

January 16, 2012

ORANG KETIGA

“Aku rindu.”
“Bali? Tentu, pulanglah, masih banyak keindahan untuk kau lihat.”
“Tapi kau jangan sibuk saat aku datang, aku ingin menikmatinya bersama yang terindah.”

SIMPANG DEWA RUCI.
Lamunanku dibangunkan klakson mobil di belakangku.
Beginilah dia saat siang, para mobil saling menyumpahi.
Sebagai salah satu kanal menuju bandara, dia tidak seharusnya semacet ini.

TERMINAL KEDATANGAN, NGURAH RAI AIRPORT.
Dari dalam pintu terminal, bidadariku melambaikan tangan.
“Adit!”
Maya berlari kemudian memelukku.
Sejenak kami berputar di udara, lalu kuturunkan untuk melihat senyumnya.
Kangen.” bisiknya lembut, tanpa kujawab.
“Wawan!” sapaku pada lelaki yang mengiringinya, teman baikku; tunangannya.
“Sini kubantu!”
“Halah, cuma segini! Santai!” timpalnya.
Gelak tawa mengiringi percakapan kami.
Wawan, Maya dan aku; orang ketiga.

 

 

Advertisements
December 9, 2011

Bunga untuk…

“Halo, aku Eli, selamat datang di tokoku.”
“Halo Eli, John. Punya mawar putih?”
“Tentu, John, berapa?”
“Tiga, diikat.”
“Sebentar.. Bin, tolong 3 mawar putih terbaik untuk tuan ini!”
Dia kemudian mengajakku ke meja kasir.
“Tunggu disini saja. Untuk kekasihmu-kah?”
“Iya, untuk kekasihku, hari ini aku mengunjunginya.”
“Oh, siapa namanya?”
“Ryan.”

Hening sejenak.

“Oh, Ryan, dia wanita.”
“Oh, oke, maaf John aku…”
“Tidak apa, sudah biasa, namanya memang maskulin.”
Kami pun tertawa kecil.

“Dia tinggal di sekitar sini?” lanjut Eli.
Kuhela nafasku sejenak.
“Dia bersemayam di pemakaman dekat blok 4.”

Aku sudah di seberang jalan saat kudengar sayup suaranya.

“John, kau lupa kembalianmu!”

aku berbalik,
dan teriakanku, ditelan decit ban yang dipaksa berhenti.

Eli..

Tags:
December 4, 2011

Mimpi [?]

“TIDAAAK!! TIDAAAK!!!”
Nafasku menderu, banjir keringat di badanku. “Oh Tuhan, mimpi itu lagi.” batinku.

7.55 am, kuyakin weker pun urung membangunkanku setelah kuteriaki. Kemudian kutinggalkan ranjang, membasahi wajahku di wastafel, mengatur nafas.

“Selamat pagi, John!”
“Pagi, Eli! Mawar putih, ada?”
“Selalu ada untukmu, ganteng.”
Eli selalu tahu cara menumbuhkan senyum di wajahku, beruntunglah setiap pagi, aku selalu melewati toko bunganya.
“Masuklah, kubuatkan kopi..”
“Nantilah, aku harus..”
“Oke, ini mawarmu, titipkan salamku untuknya.” Dia tersenyum penuh pengertian.
“Terima kasih.” Kemudian aku bergegas menyeberang..

“John! Kau lupa kembalianmu!”
Aku hampir mencapai seberang jalan saat kulihat Eli, berusaha menyusulku, tanpa melihat mobil itu.

“TIDAAAK!! TIDAAAK!!!”
Nafasku menderu, banjir keringat di badanku. “Tuhan, mimpi itu lagi..”

August 5, 2011

Fajar di sebuah Katedral

Di saat seperti inilah yang membuatku ingin berlutut di kaki Yesus. Kemudian membebaskan air mataku membasuh pipi disambut suara-suara lonceng. Bersahutan dengan latihan paduan suara anak-anak Tuhan dan malaikat-malaikat kecil yang dipantulkan sebagai gema di sepanjang katedral. Kedamaian.

Seorang pastor datang menghampiriku, kemudian bertanya. “Nak, kau tidak seperti jemaat kebanyakan, mengapa kau kemari?”

Dan aku menjawab, “Saya tidak tersesat Bapa, tapi saya sedang ingin bicara padaNya. Pura masih jauh, maka saya memutuskan kemari. Bolehkah? Bukankah ini juga rumahNya?”

Dia tersenyum padaku, matanya memancarkan kasih Tuhan. “Berdoalah dengan caramu, nak. Dia akan mendengarkanmu, dimana pun kau ingin bicara.”

Kemudian dia berlalu, menyalakan lilin-lilin kecil seterang kasih. Cahaya fajar mulai menerobos masuk kaca-kaca raksasa, menghangatkan rusuk-rusukku, menerangi sudut-sudut gelap hatiku, mengiringi air mata yang mengalir ke sudut-sudut lukaku.

Sejenak, kurasakan Tuhan hadir. Entah Yesus, entah Ida Sang Hyang Widhi Wasa; kasihNya satu.
~Tuhan, Aku mencintaiMu sejak aku masih debu. Aku tidak pernah berkhianat dari kasihMu.

Juli, 31 2011 ~ di suatu pagi yang buta
Putu Aditya Nugraha. Seorang Hindu yang Taat.

January 19, 2011

Pada suatu hari

Dia terus berlari terengah-engah, gerombolan orang di belakangnya tak mau kalah berhenti.
Seiring, handphone di kantongnya terus berdering. Reject, lalu dia terus berlari.
Beberapa saat, handphone itu kembali berdering.
“Ah dia lagi..” Gerutunya sambil terus berlari, melihat nama yang sama di layar.

SHELVI

Wanita itu tak sabar, berkali-kali hpnya bolak-balik telinga. Sesekali dia menggerutu.
“Uuh, lama banget!” Dia menelpon lagi.
Tidak diangkat.
Dia buka lagi sms kekasihnya.
“Sayang tunggu ya, sebentar lagi sampai”

PRAM

Send message. Lalu dia memacu kendaraannya.
“Sial, 10 menit lagi..”
Tanpa dia sadari, sebuah mobil menghalang saat pandangannya kembali dari handphonenya.
“Tuhan..”

ADIT

“Astaga, kecelakaan..”
Kudekati mobil itu, lalu kuambil handphone yang berdering di tangan pengemudinya.
Lumayan..”

HEI!!

Tags: