Archive for July, 2013

July 21, 2013

Lima Sore dan Meja Lusuh yang Kehilangan Pelanggan

:amalia

Katakan kepadaku, mengapa mereka bilang hati tidak bisa dibohongi?

Beberapa kali kita mengaitkan tawa ke dalam kayuh, agar makin dekat kita menuju bahagia, tanpa sadar betapa basah kita akan keringat dan kelelahan mulai mengetuk  hati yang pegal-pegal.

Beberapa kali kita mengikat kesedihan di dalam mulut, mengunyahnya pelan-pelan agar semakin liat untuk ditelan, tanpa sadar bahwa beberapa bagian mengendap di lembah dan sesekali memaksa lidah kita membersihkannya hingga tersengal.

Laut di depanmu adalah kolam penampung kesedihan

Beberapa kali kau melipat secarik kertas penuh kerinduan, dan membuangnya ke dalam tong sampah plastik yang beberapa saat lalu dibawakan pelayan. Beberapa kali kau melipat kertas penuh air mata, jadi pesawat-pesawat kecil yang kau terbangkan menuju cakrawala; agar sampai kepada matahari dan dibakar rindu.

Bahkan sampai kau pergi dari sana, kau belum sadar bahwa laut yang sedari tadi menemanimu tengah mengandung potongan-potongan pilu yang pernah kau terbangkan.

Meja kayu, semangkuk diam dan pilu

Aku menyadari bahwa cinta adalah air mata yang mengalir dari matamu ketika kau merengek agar aku tidak pergi. Kau pun menyadari bahwa cinta adalah pelukan yang akan kuhadiahkan untuk kegusaranmu, serta kata-kata yang membelai rambutmu sejenak, sesaat setelah kau cukup tenang untuk melepasku dan sesaat sebelum sebuah ledakan di dalam dadamu mendorong hujan dari mendung di matamu.

Lalu kau menyeruput diam yang cair dari sendok, dan menunjukkan potongan pilu yang kau sisakan kepadaku. Aku menggeleng dan kau tersenyum, lalu kita perlahan memudar; meninggalkan semangkuk pilu ditopang sebuah meja kayu.

dps2013

tanpa kopi

Advertisements
Tags:
July 19, 2013

Seperti Ini Aku Mengembalikan Kita

:amalia

Kadang kita diperkenalkan duka, Amalia; agar kita bisa memaknai bahagia.

Maka ikutlah denganku berjalan sejenak, menyusuri kota kecil yang dulu kita bangun di dalam dada sebelah kiri.

Pertama, mari menelusuri kembali reruntuhan yang terlalap api. Retakan-retakan menggunung yang dulu pernah utuh. Sisa-sisa gedung yang tadinya penuh. Lintasi gang-gang kecil yang patah, tempat sepasang cinta melempar-lempar gema. Dengar baik-baik, mereka masih memantulinya. Meski sayup-sayup berjuang mengisi ruang. Terbang di udara sebagai rintih-rintih sekarat dengan sayap-sayapnya yang rapuh.

Kedua, mari lihat bagaimana langit hitam kini. Bagaimana biru tempat kita biasa menggambar pelangi dulu, kini jadi lembar hitam serupa abu yang ditolak api. Kosong? Mari mengisinya kembali. Namun biarkan aku memandang matamu sejenak, aku ingin mencontek dunia kecil di dalamnya. Karena matamu adalah cetak biru tata surya, yang dititipkan ayah jikalau dunia runtuh, namun kita masih berpegangan; saling menyelamatkan.

Terakhir, ikutlah aku kembali ke dalam rumah kecil kita. Lihatlah di balik reruntuhan temboknya masih terpancang tiang-tiang; (lihatlah) janji-janji itu belum tumbang. Jam dinding yang kehilangan jarumnya, serta lukisan taman yang tanpa matahari biarlah jadi bekas luka yang mengingatkan kita, bagaimana kiamat pernah singgah.

“Cinta, itulah bumi bagi kita, Aditya. Tempat segala tumbuh dan hidup. Digenapi takdir, disepakati langit,” katamu, yang masih aku peluk hingga kini di dalam ingatan. Marilah membangun kembali segalanya, hingga kita dapatkan kembali sejuknya berpeluk kata-kata. Hingga waktu jadi beku pada puisi-puisi dan kopi bisu pukul lima pagi.

 

 

dps2013
kopikultur dan kamar tidur