Archive for April, 2013

April 22, 2013

Pecandu Rasa

Pertama,
Ia mengutus awan. Menutup tirai langit dan menghalangi sinar matahari. Demikian, aku hanya bisa tersenyum kecut. Bahkan di bawah pohon besar ini, aku tidak merasa aman.

Kedua,
Ia mengutus hujan. Menyampaikan salamnya yang lembab dan basah kepada tanah. Lalu mereka bercengkrama lewat suara-suara yang derak sepanjang siang yang tidak terlihat. Matahari sembunyi. Mendengarkan bagaimana rindu disampaikan dari balik tirai. Sesekali dia menyibak tirai–mengintip–lalu menyuarakan guntur karena terlalu kaget dengan keintiman hujan.

Ketiga,
Ia membuka tirai, melenggang tenang. Menikmati aroma yang terbang dari pori-pori tanah. Ia adalah seorang pecandu. Ia adalah seorang penghibur. Ia bukan siapa-siapa. Ia ada, dan tiada.

Keempat,
Ia memerintahkan seorang penyair, menulis manuskrip hujan.

Advertisements
April 20, 2013

Di Tengah Perjalanan

Lihat-
Rindu mengembun di lensa kaca mataku
dan demikianlah sebuah nama meniupkan kesedihan dengan sederhana
Namamu
Pilar-pilar tubuhmu
Bilah-bilah nafasmu
Binar-binar suaramu
Yang tersepuh di dalam kalbuku

Yang senantiasa nampak meski pertualangan membawaku jauh
hingga nanti, rentangan tanganmu untukku jadi sambutan kepulangan

Sayang, puisi sesungguhnya terlalu rimbun untuk jadi tempat berteduh
Tiada siang yang benar-benar hangat, tiada malam yang benar-benar sepi
Ketiadaanmu membuat siang mengigil sementara,
rindu dan bayangmu senantiasa membuat malam sedemikian ramai

Malam ini-

Di kamar ini, aku, dibisiki para binatang malam untuk tinggal
Kemudian kutulis puisi-puisi kecil yang tak pernah mampu mereka rebut dariku
Sebab setiap kertas ini ialah kebun bunga, yang kelak akan kulipat
jadi lingkaran sajak yang melengkungkan senyum di wajahmu

Oh, tangis-

Bahwa kau sesungguhnya tetesan puisi berbalut air mata
Dan aku melihat kesepian sebagai hal-hal yang patut dirayakan
Sebagai hal-hal yang ingin dihadiahkan
dengan mengenangmu, misalnya

Aku memujamu, sayangku-

Di depanmu, sayang; lutut ini rela mencium bumi lebih lama dari sepatutnya
Di hadapanmu, kata-kata senantiasa berubah iya bagi setiap pinta
Aku ingin menciummu seperti matahari kepada lautan cakrawala
–perlahan, intim dan basah

dps2013

April 18, 2013

Sisa

I. Detik-detik kehilangan
Wanita ini, memelukku dengan segala kekuatan yang tersisa untuk menolak paksaan waktu. Aku yang hilang pandang, hanya tertegun dengan mata mengabur dan fokus yang kurang normal. Kedua lenganku, memeluknya dengan ragu, karena: jika terlalu erat, aku semakin sulit melepasnya, sedang jika terlalu lemah, ia akan cepat pergi.

Aku tak sanggup,
memandang matanya lebih dari dua detik, aku kesulitan. Maka dari itu, aku memintanya segera masuk ke ruangan itu dan kemudian pelukan kami melepas dengan enggan. Kami ingin menamakannya perpisahan sementara, karena pertemuan, akan datang kembali pada waktunya nanti. Rindu-rindu kecil yang menggelitik, akan jadi perekat untuk batu-batu merah yang mencerah pertemuan.

Kemudian,
aku mengambil gambarnya sekali, mencoba memerangkapnya dalam pikiran–tentang bagaimana pundaknya menjauh. Tentang bagaimana tempatku berteduh–pundak yang telah menjadi tempatku meletakkan lelah dalam beberapa hari lalu.

II. Detak-detak reruntuhan

 Sayang, aku telah berteduh di ruang tunggu
–pesan itu memantul di mataku, ketika aku berjalan menuju kendaraanku
dan bebunyian lain menyusul ketika aku membuka pintu dan menghidupkan mesin

 Sayang, ini perpisahan paling berat yang kurasakan. Aku menangisinya barusan
–lanjut pesan tersebut, pasi

Sebuah pelukan, dan senyuman yang aku kuat-kuatkan barusan jadi hambar. Terbayang cepat kejadian-kejadian barusan ketika aku berpura-pura tegar. Sebuah bendungan runtuh di mataku, pipiku jadi ceruk. Tiada lagi kebanggaan yang tersisa untuk seorang laki-laki kepada laki-laki lainnya. Getaran mesin mobil lebih halus daripada gemetar di dadaku. Suaranya tidak mampu menutup isak yang menggema di rongga telingaku. Air mata pun menyeruak mencari muaranya.

Di belakang kemudi, aku bersembunyi. Matahari membelaiku hangat.
Musik cantik kemudian memutar kata demi kata di lingkaran kepala.

cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi..

Dadaku adalah rumah, bagi setiap debar rindu yang menghantam dadamu
Tiada kembali yang akan kutolak, karena senyummu adalah kunci
dan hatiku selalu menunggu untuk dibuka lagi

 

dps2013